RadarAmbon.id, Langgur – Aksi perusakan terjadi di lingkungan SMK Negeri 1 Maluku Tenggara (Malra), tepatnya di Kolser, Kecamatan Kei Kecil. Sebanyak 13 kaca jendela pada ruang Uji Kompetensi Keahlian (UKK) siswa dilaporkan pecah akibat ulah orang tak dikenal (OTK), Rabu (8/4/2026) dini hari.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 03.53 WIT. Dua pelaku diduga datang menggunakan sepeda motor sebelum melancarkan aksi perusakan di area sekolah.
Wakil Kepala SMKN 1 Malra, Samuel Namsa, menjelaskan, kejadian pertama kali diketahui setelah pihak keamanan sekolah melaporkan adanya aktivitas mencurigakan di lingkungan sekolah.
“Dua OTK datang menggunakan motor. Salah satu pelaku kemudian melompati pagar dan melempari kaca jendela hingga pecah,” ungkapnya saat ditemui di lokasi kejadian.
Menurutnya, penjaga sekolah yang saat itu berada di dalam salah satu ruang kelas sempat berteriak sehingga membuat kedua pelaku melarikan diri. Namun, sekitar satu jam kemudian, pelaku kembali dan melanjutkan aksinya.
“Mereka kembali dan kali ini masuk dengan merusak pagar gerbang. Penjaga sekolah merasa takut karena pelaku mengenakan sweater dan membawa panah wayer,” jelasnya.
Setelah melakukan perusakan, kedua pelaku kembali meninggalkan lokasi. Penjaga sekolah kemudian melaporkan kejadian tersebut ke pos pengamanan di kawasan Mangga Dua.
Tidak berhenti di situ, sekitar pukul 05.00 WIT, pelaku kembali mendatangi sekolah, diduga untuk memastikan kondisi lokasi, sebelum akhirnya pergi meninggalkan area tersebut.
“Beberapa jam kemudian, kami bersama Kepala Sekolah langsung ke lokasi setelah menerima laporan dari penjaga sekolah,” tambahnya.
Samuel menuturkan, insiden perusakan ini merupakan yang pertama kali terjadi dalam bentuk kerusakan fisik. Namun, aksi pencurian fasilitas sekolah disebut sudah beberapa kali terjadi sebelumnya.
“Peristiwa ini diduga berkaitan dengan rentetan kasus pencurian yang sering terjadi di lingkungan sekolah. Kami berharap pihak kepolisian segera mengusut tuntas pelaku karena sangat meresahkan, apalagi terjadi di lingkungan pendidikan yang seharusnya aman,” tegasnya.(*)





