RadarAmbon.id – KAPOLDA Maluku Irjen Pol Dadang Hartanto mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kolaborasi dalam menjaga stabilitas keamanan sekaligus mendorong kemajuan pembangunan di Maluku.
Ajakan tersebut disampaikan saat berdialog bersama insan pers dalam forum santai bertajuk “Duduk Bercerita” yang berlangsung pada Rabu (3/6/2026).
Dalam kesempatan itu, Kapolda meminta para wartawan tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga turut memberikan gagasan dan pandangan konstruktif bagi pembangunan daerah. Menurutnya, tanggung jawab memajukan Maluku berada di tangan seluruh masyarakat.
“Yang berpikir untuk kemajuan Maluku bukan orang lain, tetapi kita semua. Karena itu, kerja sama harus diperkuat dengan memanfaatkan seluruh potensi yang ada,” ujarnya.
Kapolda menilai Maluku memiliki kekayaan potensi yang besar, mulai dari sumber daya manusia, budaya, hingga keindahan alam. Potensi tersebut, kata dia, perlu dijaga melalui terciptanya situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang kondusif.
Salah satu perhatian utama Polda Maluku adalah pencegahan konflik sosial. Menurut Kapolda, konflik besar kerap berawal dari persoalan kecil seperti perundungan, konflik dalam keluarga, hingga tawuran antar kelompok maupun antar kampung yang kemudian berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
Meski demikian, ia mengungkapkan bahwa angka konflik sosial di Maluku terus menunjukkan tren penurunan. Data kepolisian mencatat sebanyak 156 kasus konflik sosial terjadi pada tahun 2024, kemudian turun menjadi 96 kasus pada tahun 2025. Sementara hingga Juni 2026, jumlah kasus yang tercatat jauh lebih sedikit.
“Saya berharap hingga akhir tahun tidak terjadi lagi konflik sosial. Kondisi ini harus terus kita jaga dan pertahankan bersama,” katanya.
Kapolda menegaskan bahwa menjaga stabilitas daerah bukan hanya tugas kepolisian, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Peran media massa, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, serta pemerintah daerah dinilai sangat penting dalam menciptakan suasana yang aman dan harmonis.
Ia juga menyoroti berbagai persoalan sosial yang masih menjadi pemicu kekerasan, seperti egoisme kelompok dan sikap yang menganggap kelompok sendiri paling benar. Menurutnya, pola pikir tersebut perlu diubah melalui edukasi yang berkelanjutan.
Sebagai langkah pencegahan, Polda Maluku telah meluncurkan program Polisi Mengajar yang bertujuan memberikan pemahaman kepada para pelajar mengenai pentingnya toleransi, persatuan, dan kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Generasi yang lahir setelah konflik tahun 1999 tidak mengalami langsung dampak konflik tersebut. Karena itu, mereka perlu diberikan edukasi agar memahami pentingnya menjaga perdamaian dan keutuhan Maluku,” jelasnya.
Kapolda juga mengingatkan besarnya pengaruh media sosial terhadap generasi muda. Ia mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.
Menurutnya, media massa memiliki peran strategis dalam menyajikan informasi yang akurat, kredibel, dan berdasarkan fakta. Kehadiran media profesional menjadi salah satu benteng penting dalam menangkal penyebaran hoaks yang berpotensi memicu keresahan di tengah masyarakat.
“Ketika media sosial menyebarkan informasi yang belum tentu benar, media mainstream dan para jurnalis memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan informasi yang valid dan sesuai fakta,” tegasnya.
Menutup dialog tersebut, Kapolda mengajak seluruh masyarakat untuk terus mempererat silaturahmi, menjaga persatuan, dan menumbuhkan rasa cinta terhadap Maluku. Menurutnya, keamanan dan kemajuan daerah hanya dapat terwujud melalui kebersamaan dan komitmen seluruh elemen bangsa.
“Maluku adalah milik kita bersama. TNI, Polri, pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan seluruh warga harus terus bersatu menjaga daerah ini agar tetap aman, damai, dan maju,” pungkasnya. (AAN)






