RadarAmbon.id – DALAM rangka memasuki ujian akhir Kelas XII MIA 7, Sekolah Menengah Atas Negeri 11 (SMANSEB), Ambon, menggelar Ujian Praktek Seni Budaya bertempat di lokasi Lapangan SMANSEB, Galunggung, Kota Ambon, Rabu, (11/2/26).
Pentas seni Kelas XII MIA 7 SMANSEB yang berlangsung selama empat hari hingga Sabtu mendatang itu merupakan kegiatan rutin pada sekolah yang dipimpin Kepala Sekolah Drs. La Ima Kampono, M.Pd, itu.
Ujian praktek seni budaya di bawah asuhan Guru Pembimbing Seni Budaya SMANSEB Ambon Said Magrib ini merupakan bagian penting dari upaya peningkatan kemampuan para siswa/siswi di bidang seni budaya.
Kali ini pertunjukan teater tersebut menampilkan sebuah karya seni berjudul: Elara, Bunga Matahari Si Anak Manja yang dibacakan oleh siswi bernama Nazwa Kiranty Kaisupy.

Karya seni ini menampilkan cerita dari sebuah keluarga bahagia yang memiliki seorang anak tunggal bernama Elara.
Alkisah, Elara kecil sejak lama hidupnya sudah dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Nama Elara sendiri memiliki arti bunga matahari dengan harapan kelak bila besar nanti dia akan menjadi sumber kebahagiaan dan kehangatan bagi keluarganya.
Elara pun tumbuh dengan penuh kasih sayang dan perhatian, sehingga dia tidak ingin memiliki adik karena takut kehilangan perhatian orang tuanya.
Namun, tanpa sepengetahuan Elara, ibunya mengandung. Ketika Elara mengetahui hal ini, dia merasa keegoisannya muncul. Ia menyadari bahwa kasih sayang orang tuanya akan terbagi dua.
Di tengah kebahagiaan keluarganya itu — di luar sana ada oknum yang menyimpan rasa dengki terhadap keluarga Elara. Oknum itu pun menggunakan ilmu hitam untuk menyantet ayah Elara hingga menyebabkan ayah Elara meninggal dunia.
Ibu Elara sangat hancur, tapi sang ibu tetap berusaha keras merawat Elara dan adiknya yang masih dalam kandungan. Namun, beban yang terlalu berat membuat ibu Elara tidak sanggup, dan dia pun meninggal dunia menyusul ayah Elara.
Elara dan adiknya menjadi yatim piatu, tapi mereka tidak sendirian. Bude dan Pade, yang merupakan kakak dari ayah Elara, mengambil mereka berdua sebagai anak mereka sendiri. Mereka menyayangi Elara dan adiknya seperti anak mereka sendiri dan memberikan kasih sayang dan perhatian yang dibutuhkan.
Dengan penuh kasih sayang dan perhatian dari Bude dan Pade, Elara belajar untuk melepaskan rasa bersalah dan fokus pada masa depan adiknya. Dia pun menjadi anak yang kuat dan bijak, dan adiknya juga tumbuh menjadi anak yang ceria dan bahagia.
Itulah sepenggal cerita dari sebuah pentas seni berjudul: Elara, Bunga Matahari Si Anak Manja yang ditampilkan siswa-siswi Kelas XII MIA 7 SMANSEB, Ambon, Rabu kemarin.
Ajang pagelaran seni para siswa SMANSEB ini menjadi bukti kepedulian dan kreativitas mereka di bawah guru asuhan Said Magrib tersebut. Ini juga sebagai pertanda atau wujud kemampuan dan tingginya kreatifitas para siswa SMANSEB di bidang seni budaya.
Kepedulian ini juga sebagai bentuk dari konsistensi para pendidik tidak saja dalam dunia pendidikan, tapi juga ikut melestarikan serta memperkuat nilai-nilai kesatuan, kebersamaan, dan keberagaman yang inklusif dalam kehidupan di bidang seni budaya.
Para pemeran teater pada pentas seni budaya ini menampilkan Mega Lisma Ripamole berperan sebagai Elara. Sedangkan Muhammad Reyhan Latupono sebagai Ayah. Adapun Farida Zumain Arafat Salampessy sebagai Ibu.
Sementara Muhammad Farid sebagai Pakde, Humairah Al Medinah Yusran sebagai Bukde, Anisah Dewanti Sabar sebagai Kirana (teman Elara), dan Charyn Rizkiyah Ahmad sebagai Sekar (teman Elara).
Adapun Achmad Alwi Sampulawa berperan sebagai Pak Edi, Febdila Shani Kiat sebagai Bibi, Darmansyah Sidik sebagai Dukun, dan Saifa Tuanany sebagai Penyanyi.
Pun sebagai artistik yakni Nadrah A.S Tuhuteru, Khansa Musdalifah Nasela, dan Ratri Nurul Khumaira.
Sedangkan sebagai instrumen yakni Ifan Ahmad Lakuy, dan lighting yakni Bunga A.S. Djafar.
Sebagai pelatih inti yakni Kak Aldry, Kak Saskia. Sementara berperan sebagai pelatih bantu yakni Kak Cantika, Kak Salsa, dan Kak Iky. (DIB)





