Bimas Katolik Ambon Tetap Prioritaskan Pelayanan Umat, Meski Anggaran Terbatas

  • Bagikan

RadarAmbon.id – Keterbatasan anggaran pada tahun 2026 tidak menghentikan upaya Bimbingan Masyarakat (Bimas) Katolik Kementerian Agama Kota Ambon dalam menjaga kualitas pelayanan keagamaan bagi umat.

Di tengah penyesuaian belanja yang berdampak pada sejumlah program, fokus pelayanan tetap diarahkan pada kebutuhan dasar umat, termasuk pembinaan dan penguatan kehidupan beragama di masyarakat.

Kepala Seksi Pembimas Katolik Kemenag Kota Ambon, Justinus Dairo Malo, kepada wartawan Rabu (15/4/26) menyampaikan bahwa saat ini pihaknya menjalankan kegiatan dengan mengandalkan anggaran operasional rutin. Meski demikian, kewajiban memenuhi target kinerja dari pemerintah pusat hingga daerah tetap menjadi tanggung jawab yang tidak bisa diabaikan.

Menurutnya, penyesuaian anggaran memang berdampak pada pengurangan sejumlah kegiatan. Namun, hal tersebut tidak mengurangi komitmen institusi dalam menjalankan tugas pelayanan kepada umat secara optimal.

Salah satu langkah strategis yang terus dijalankan adalah program deteksi dini atau early warning system untuk mengantisipasi potensi konflik sosial bernuansa keagamaan. Program ini melibatkan para penyuluh agama, baik Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), yang aktif turun langsung ke tengah masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, para penyuluh diharapkan mampu membangun komunikasi yang harmonis serta menjaga stabilitas kerukunan antarumat beragama di Kota Ambon.

Selain fokus pada pencegahan konflik, Bimas Katolik juga tetap berpartisipasi dalam berbagai kegiatan keagamaan umat. Kehadiran tersebut, kata Malo, kerap didukung secara swadaya oleh para pegawai sebagai bentuk dedikasi dalam memenuhi kebutuhan spiritual masyarakat.

Sebagai bentuk inovasi di tengah keterbatasan, pihaknya juga menggagas penerbitan buku renungan sederhana yang disusun oleh para penyuluh agama. Buku tersebut direncanakan untuk dibagikan kepada umat Katolik di Ambon sebagai alternatif penguatan iman.

Ia mengakui, keterbatasan anggaran belum memungkinkan untuk pencetakan kitab suci dalam jumlah besar. Namun, inisiatif tersebut diharapkan menjadi langkah awal dalam memperluas jangkauan pelayanan keagamaan di tengah kondisi yang serba terbatas.(*)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *