RadarAmbon.id – Biaya carter pesawat untuk pelayanan jamaah calon haji asal Provinsi Maluku Tahun 2026 mengalami kenaikan signifikan akibat dampak situasi global yang tidak menentu. Lonjakan harga avtur yang dipicu ketegangan geopolitik, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran hingga berdampak pada penutupan Selat Hormuz, menjadi faktor utama membengkaknya anggaran tersebut.
Pemerintah daerah sebelumnya telah merancang anggaran carter pesawat sebesar Rp4,7 miliar. Namun, dalam perkembangannya, biaya tersebut meningkat menjadi lebih dari Rp5 miliar. Kenaikan ini terjadi di tengah upaya efisiensi anggaran yang sedang dilakukan, sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi penyelenggara ibadah haji di daerah.
Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Maluku, Kasrul Selang, mengakui bahwa kondisi global sangat mempengaruhi kenaikan harga bahan bakar penerbangan yang berdampak langsung pada biaya carter maskapai. Hal ini disampaikannya usai rapat koordinasi di Gedung Muzdalifa, Asrama Haji Antara Waiheru Ambon, Senin (13/4/2026).
Menurut Kasrul, pelaksanaan embarkasi haji antara di Ambon yang telah memasuki tahun ketiga bertujuan meningkatkan kenyamanan dan keamanan jamaah. Dengan sistem ini, jamaah diberangkatkan dari Ambon menuju Makassar hanya untuk transit tanpa keluar bandara sebelum melanjutkan penerbangan internasional ke Tanah Suci.
Ia menjelaskan, tahun ini Maluku dijadwalkan memberangkatkan dua kelompok terbang (kloter). Kloter pertama berjumlah sekitar 393 jamaah akan berangkat pada 7 Mei dari Ambon dan melanjutkan perjalanan ke Makkah pada 8 Mei dari Makassar. Sementara kloter berikutnya dengan total 194 jamaah gabungan Sulawesi dijadwalkan berangkat pada 8 Mei.
Kasrul menambahkan, meski terjadi pembengkakan biaya, pemerintah daerah tetap berkomitmen meminimalisir pengeluaran tanpa mengurangi kualitas pelayanan. Arahan gubernur menegaskan bahwa kenyamanan dan keamanan jamaah harus tetap menjadi prioritas utama.
Selain itu, dukungan dari berbagai instansi seperti Balai Karantina Kesehatan, Imigrasi, dan Bea Cukai turut membantu menekan biaya operasional. PPIH Maluku juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Agama dan pihak terkait untuk mencari solusi atas kenaikan biaya yang berada di luar prediksi tersebut.
“Kami tetap berupaya agar seluruh jamaah mendapatkan pelayanan terbaik. Ini adalah tamu-tamu Allah, sehingga harus dilayani dengan maksimal meskipun ada keterbatasan anggaran,” ujar Kasrul.
PPIH Maluku optimistis seluruh rangkaian penyelenggaraan ibadah haji tahun ini dapat berjalan lancar, dengan peningkatan kualitas layanan meskipun dihadapkan pada tantangan global yang berdampak pada pembiayaan.(*)





