Piala Dunia dan Harapan Untuk Indonesia

  • Bagikan
Saidin Ernas

Oleh: Saidin Ernas
Penggemar Sepakbola dan Pendukung Timnas Indonesia


GELARAN
Piala Dunia FIFA 2026 akhirnya mencapai penghujungnya. Selama hampir satu bulan, perhatian masyarakat dunia tertuju pada pertandingan-pertandingan yang berlangsung di tiga negara penyelenggara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Puncaknya adalah laga final yang berlangsung di New Jersey, Amerika Serikat, yang menobatkan Spanyol sebagai juara dunia. Selamat kepada La Furia Roja yang kembali mengangkat trofi paling bergengsi dalam sepak bola dunia.

Sebagai pendukung setia Argentina, tentu saya berharap Lionel Messi dan kawan-kawan mampu mempertahankan gelar juara yang diraih pada edisi sebelumnya. Harapan itu memang belum terwujud. Namun, kehadiran Messi di penghujung kariernya tetap menghadirkan pesona yang luar biasa. Di usia yang tidak lagi muda, ia masih menunjukkan kepemimpinan, visi bermain, dan semangat yang menginspirasi jutaan penggemar sepak bola di seluruh dunia. Terlepas dari hasil akhir, Messi tetap menjadi simbol dedikasi dan kecintaan terhadap olahraga ini.

Piala Dunia kali ini kembali membuktikan bahwa sepak bola selalu menghadirkan kejutan. Sejumlah tim unggulan harus tersingkir lebih awal, sementara negara-negara yang sebelumnya jarang diperhitungkan justru mampu mencuri perhatian dunia. Negara-negara kecil menunjukkan bahwa kerja keras, organisasi permainan yang baik, dan semangat pantang menyerah mampu menembus batas-batas yang selama ini dianggap mustahil. Sepak bola kembali mengajarkan bahwa nama besar bukanlah jaminan kemenangan.

Yang lebih menarik lagi, Piala Dunia sekali lagi membuktikan dirinya sebagai peristiwa yang mampu menyatukan perhatian umat manusia. Di tengah dunia yang masih diwarnai konflik, ketegangan geopolitik, dan berbagai persoalan ekonomi, masyarakat sejenak melupakan perbedaan. Selama 90 menit, jutaan orang bersorak, berdebat, dan bergembira karena sepak bola. Barangkali tidak ada peristiwa olahraga lain yang memiliki daya pemersatu sebesar Piala Dunia.

Euforia yang Menghidupkan

Saya bersyukur dapat menikmati euforia Piala Dunia kali ini di Kota Ambon. Kota ini memiliki tradisi kecintaan terhadap sepak bola yang begitu kuat. Menonton pertandingan bersama atau nonton bareng bukan sekadar hiburan, melainkan telah menjadi ruang sosial yang mempertemukan berbagai kalangan masyarakat.

Hampir setiap pertandingan besar dipenuhi kegiatan nobar di berbagai sudut kota. Pemerintah Provinsi Maluku bahkan menjadikan momentum ini sebagai bagian dari agenda publik. Ketika saya berkesempatan berbincang dengan Gubernur Maluku, beliau menyampaikan bahwa penyelenggaraan nobar tidak hanya dimaksudkan untuk menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga untuk menggerakkan roda perekonomian, khususnya sektor UMKM. Sebuah kebijakan sederhana, tetapi memiliki dampak ekonomi ekonomi.

Para pedagang pun menikmati berkah Piala Dunia. Penjualan jersey tim nasional meningkat tajam. Ketika saya membeli jersey terbaru Timnas Argentina di salah satu toko di Maluku City Mall Ambon, seorang pedagang bercerita bahwa omzet mereka meningkat berkali-kali lipat selama turnamen berlangsung. Namun, bisnis sepak bola memang penuh risiko. Begitu sebuah tim tersingkir, jersey tim tersebut biasanya langsung kehilangan peminat.

Kafe, restoran, hingga warung kopi juga dipenuhi pengunjung hampir setiap malam. Banyak di antaranya rela beroperasi hingga dini hari demi melayani para pecinta sepak bola. Setelah pertandingan usai, terutama ketika tim favorit meraih kemenangan, jalan-jalan di Kota Ambon dipenuhi konvoi kendaraan yang membawa bendera negara masing-masing. Suasana itu menggambarkan kegembiraan kolektif yang sulit ditemukan pada momentum lainnya. Meskipun demikian, euforia semacam ini tentu perlu tetap dijaga agar tidak berujung pada tindakan yang membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Di balik semua itu, Piala Dunia juga menghadirkan cerita-cerita kecil yang menghibur. Seorang kerabat dekat saya yang merupakan pendukung setia Brazil sering menjadi sasaran ejekan istri dan anaknya yang merupakan mendukung fanatic Argentina. Bahkan, menurut pengakuannya sambil tertawa, sang istri hanya memasak hidangan istimewa ketika Argentina bertanding. Begitulah sepak bola menghadirkan dinamika yang unik dalam kehidupan keluarga; penuh canda, persaingan, tetapi tetap mempererat kebersamaan.

Harapan untuk Indonesia

Di balik kemeriahan pesta sepak bola dunia, sesungguhnya terdapat pelajaran yang jauh lebih berharga daripada sekadar siapa yang keluar sebagai juara. Piala Dunia menunjukkan bahwa prestasi olahraga tidak lahir secara instan. Ia merupakan hasil dari investasi jangka panjang dalam pembinaan usia muda, tata kelola organisasi yang profesional, kompetisi yang sehat, kualitas pelatih, dukungan pemerintah, serta budaya masyarakat yang mencintai sepak bola. Karena itu, Piala Dunia seharusnya tidak hanya menjadi tontonan, melainkan juga menjadi ruang refleksi bagi setiap negara, termasuk Indonesia, untuk mengevaluasi sejauh mana keseriusan kita membangun sepak bola nasional.

Pertama, kita tentu harus terus mempersiapkan Tim Nasional Indonesia agar mampu lolos ke putaran final Piala Dunia. Impian itu bukan lagi sesuatu yang mustahil. Dalam beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan perkembangan yang cukup menggembirakan. Pembinaan usia muda mulai berjalan lebih baik, kompetisi semakin tertata, dan keberhasilan menghadirkan pemain-pemain diaspora telah meningkatkan kualitas tim nasional secara signifikan. Harapan besar kini berada di pundak Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, beserta jajaran pelatih dan seluruh perangkat sepak bola nasional. Kerja keras yang telah dilakukan perlu terus dilanjutkan secara konsisten, profesional, dan bebas dari kepentingan-kepentingan sesaat.

Sudah terlalu lama lebih dari 280 juta rakyat Indonesia hanya menjadi penonton Piala Dunia. Sudah saatnya kita bermimpi lebih besar, suatu hari nanti kita tidak lagi berkumpul untuk mendukung Argentina, Brasil, Spanyol, Jerman, Inggris, atau Prancis, melainkan memenuhi stadion dan ruang-ruang publik untuk mendukung Merah Putih bertanding di panggung sepak bola tertinggi dunia.

Sebelum sampai pada cita-cita tersebut, Indonesia tentu perlu terus menorehkan prestasi di tingkat regional dan Asia, terutama pada momentum Piala AFF yang akan menjelang dan Piala Asia tahun Depan. Setiap keberhasilan akan menjadi batu pijakan menuju target yang lebih besar. Hal terpenting adalah menjaga kesinambungan pembinaan, memperkuat kompetisi domestik, meningkatkan kualitas akademi sepak bola, serta memastikan tata kelola organisasi berlangsung secara profesional dan transparan.

Pelajaran kedua adalah keberanian untuk bermimpi menjadi tuan rumah Piala Dunia. Negara-negara Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam, memiliki basis penggemar sepak bola yang sangat besar. Dengan kekuatan ekonomi kawasan yang terus tumbuh serta pengalaman menyelenggarakan berbagai ajang olahraga internasional, gagasan menjadi tuan rumah bersama bukanlah sesuatu yang mustahil diwujudkan pada masa mendatang.

Menjadi tuan rumah Piala Dunia bukan sekadar persoalan prestise. Lebih dari itu, penyelenggaraan ajang sebesar ini akan mempercepat pembangunan infrastruktur, memperkuat kerja sama regional, meningkatkan kunjungan wisatawan, membuka lapangan kerja, dan memperkenalkan wajah Asia Tenggara kepada dunia sebagai kawasan yang damai, terbuka, dan terus berkembang.

Pada akhirnya, Piala Dunia bukan hanya tentang siapa yang mengangkat trofi. Lebih dari itu, Piala Dunia adalah tentang harapan. Harapan bahwa kerja keras akan mengalahkan keterbatasan. Harapan bahwa bangsa-bangsa kecil dapat berdiri sejajar dengan negara-negara besar. Dan bagi Indonesia, Piala Dunia harus menjadi pengingat bahwa mimpi besar hanya akan terwujud jika dibangun melalui perencanaan yang matang, kerja kolektif, serta komitmen yang tidak pernah padam.

Suatu hari nanti, saya berharap kita tidak lagi hanya mengenakan jersey negara lain, tetapi dengan bangga memakai jersey Merah Putih sambil menyanyikan Indonesia Raya di panggung Piala Dunia. Ketika hari itu tiba, kemenangan terbesar bukan hanya milik sebelas pemain di lapangan, melainkan milik seluruh bangsa Indonesia. Semoga….! (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *