Oleh : Paman Nurlette
Kini jagat media sosial diwarnai dengan narasi pro dan kontra menyikapi Argentina bentrok dengan Mesir pada babak 16 besar sistem gugur di stadion Atlanta, Georgia, Amerika Serikat. Usai laga sengit antara “tim Tango” melawan “tim Firaun” memantik aneka perspektif dan ragam pandangan baik dari kalangan legenda sepak bola, pelatih, wasit hingga para haters.
Sebagai olahraga terbesar dan paling populer di dunia dengan estimasi jumlah penggemar hampir 50% dari jumlah penduduk bumi, maka setiap laga pertandingan sepak bola terutama piala dunia pasti menjadi perhatian masyarakat internasional. Ya, namanya saja Piala Dunia, tentu menjadi pembahasan global apalagi ada kontroversi.
Pro dan Kontra dalam pertandingan sepak bola merupakan sesuatu yang lazim dan tidak bisa dihindari, sebab keputusan wasit meskipun benar tidak bisa memuaskan semua tim. Ibarat keputusan hakim untuk memutuskan sebuah perkara di Pengadilan, yang juga tidak bisa memuaskan semua pihak.
Laga kontroversial tersebut telah mengundang tanggapan tajam dari mantan wasit legendaris Pierluigi Collina, pelatih tersohor Pep Guardiola dan Jose Mourinho, Toni Kroos mantan pemain gelandang tengah Jerman dan legenda Swedia Zlatan Ibrahimovic, serta Mohammed Salah sendiri kapten Mesir, yang pada esensinya menilai keputusan wasit sudah tepat dan memberikan kritik pedas kepada sikap Pelatih Mesir, yang dinilai tidak menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas setelah laga berakhir.
Terjadi hiruk pikuk tersebut, ketika keputusan wasit asal Prancis, Francois Letexier, yang memimpin lalu lintas pertandingan untuk tidak memberikan tendangan penalti kepada Mohamed Salah, kapten tim Firaun. Sementara di sisi lain wasit sebelumnya membatalkan gol Mustafa Zico dengan dalih pelanggaran serupa yang dilakukan oleh Lisandro Martinez terhadap Marwan Attia.
Keputusan kontroversial ini, jika dinilai dengan pendekatan sentimen negatif, manipulatif dan konfrontatif tanpa memahami aturan terbaru FIFA, yang diterapkan pada Piala Dunia 2026 pasti menyimpulkan tidak adil dan dicap kecurangan. Faktanya komentar prematur datang dari para haters langsung menjustifikasi dengan narasi “Argentina dibelah wasit, permainan setingan, ini konspirasi, dan Messi anak FIFA”.
Aneka ragam komentar membabi buta dari para haters ini setelah mereka menyaksikan skenario pahit, di mana raksasa Afrika itu kebobolan tiga gol dengan skor akhir 2-3. Padahal saat La Albiceleste tertinggal 2-0 dari Mesir mereka ikut bersuka cita, dan berharap Argentina mendapat kesedihan mendalam.
Para haters tidak paham kebangkitan Argentina untuk menjebol gawang tim Firaun tiga gol berturut-turut dalam durasi waktu hanya 12 menit, karena Intensitas, Kualitas dan Mentalitas Juara dan setelah Lionel Scaloni sang arsitek Tim Tango memasukan Lautaro Martinez dan Nico Gonzalez dengan melakukan perombakan formasi dari pendekatan 4-1-3-2 menjadi 4-4-2. Dalam formasi ini Lionel Messi dan Nico Gonzalez ditempatkan disisi sayap, sementara masuknya Lautaro Martinez dan Julian Alvarez menjadi duet di lini depan.
Penulis sengaja produksi tulisan ini, dengan tujuan untuk merespon narasi dangkal, kering referensi dan non data dari para haters dibalik ketidaktahuan mereka tentang sepak bola modern dan 8 (delapan) aturan terbaru Piala Dunia, yang diterapkan oleh FIFA terkait kemenangan Tim Tango.
Perlu diketahui FIFA dan IFAB secara resmi mengeluarkan peraturan baru yang sudah berlaku di Piala Dunia 2026. International Football Association Board (IFAB) selaku badan atau lembaga yang memiliki kewenangan memproduksi regulasi dan aturan resmi dalam sepak bola dunia, yaitu menetapkan Laws of the game atau aturan baru pada pesta akbar sepak bola tengah tahun ini.
Delapan aturan baru FIFA tersebut secara garis besar diantaranya: pertama, pemain yang menutup mulut dengan tangan, lengan, atau kaus dalam situasi konfrontasi akan menerima kartu merah. Kedua, Pemain yang meninggalkan lapangan atau walk out lantaran memprotes keputusan wasit akan diberi kartu merah. Ketiga, Wasit akan menerapkan batas waktu aturan lima detik untuk mengambil lemparan ke dalam dan tendangan gawang.
Selanjutnya, keempat Pemain hanya memiliki waktu 10 detik untuk meninggalkan lapangan ketika papan pergantian pemain muncul di pinggir lapangan. Kelima, pemain yang cedera harus meninggalkan lapangan selama satu menit setelah pertandingan dimulai jika staf medis masuk lapangan untuk merawat mereka. Keenam, jika kiper sedang mendapat perawatan di lapangan, pemain dari kedua kesebelasan tidak boleh meninggalkan lapangan untuk berkomunikasi dengan pelatih.
Kemudian, ketujuh akan ada “jeda hidrasi” selama tiga menit di setiap babak dalam setiap pertandingan. Rehat itu dilakukan pada sekitar pertengahan babak (menit ke-22), dan kedepan, VAR sat ini bisa digunakan dalam insiden-insiden dalam beberapa situasi seperti “mengintervensi keputusan wasit lapangan yang dianggap keliru dalam memberi kartu kuning kedua, kesalahan mengenali pemain, dan sepak pojok”.
Mengacu pada delapan aturan terbaru Piala Dunia yang diterapkan FIFA sebagaimana dijelaskan diatas, maka gol kedua Mesir, yang dianulir VAR pada menit ke-58 sudah tepat. Hal ini bermula dari Haissem Hassan menggiring bola dari area pertahanan dalam rangka serangan balik, lalu mentransfer bola kepada Mohamed Salah. Salah lantas mengirim umpan terobosan ke Mostafa Ziko yang akhirnya berbuah gol ke gawang Argentina.
Namun, usai gol tercipta, wasit Francois Letexier dipanggil untuk meninjau VAR. Hasil tinjauan menunjukkan, dalam proses membangun serangan, pemain Mesir Marwan Attia menarik dan menginjak kaki bek Argentina Lisandro Martinez. Secara aturan tindakan menginjak kaki lawan dikategorikan sebagai pelanggaran ketika wasit menganggap hal tersebut sebagai tindakan ceroboh.
Berdasarkan pelanggaran tersebut, Letexier membatalkan gol Mostafa Ziko. Keputusan tersebut bukan didasarkan pada konspirasi atau settingan demi marketing bisnis, melainkan berdasarkan Laws Of The Game (Aturan terbaru FIFA).
Jika ditarik ke dalam Protokol VAR, wasit berkewajiban meninjau ulang jika ada indikasi pelanggaran oleh tim penyerang dalam proses membangun serangan (build-up). Karena Marwan Attia merebut bola lewat kontak fisik dan Mesir terus menguasai bola hingga Ziko mencetak gol, secara tertulis wasit memiliki wewenang penuh untuk mengubah keputusan, juga membatalkan gol tersebut karena dinilai lahir dari proses yang tidak sah. Jadi, keputusan tersebut benar secara hukum tertulis FIFA.
Dalam regulasi IFAB disebutkan bahwa VAR dapat digunakan pada periode permainan sebelum dan sesudah insiden yang dapat ditinjau, sebagaimana ditentukan oleh Peraturan Permainan dan protokol VAR. Aturan tersebut juga menjelaskan bahwa peninjauan ulang diperbolehkan untuk pelanggaran tim penyerang dalam proses terciptanya gol atau saat terciptanya gol (handball, pelanggaran, offside, dan lain-lain.
Sementara keputusan wasit untuk tidak memberikan tendangan penalti pada gol ketiga Argentina adalah tepat. Jika diperhatikan tayangan VAR, pemain Argentina, Julian Alvares, berhasil terlebih dahulu mengontrol bola secara sah, sebelum terjadi kontak fisik dengan bintang Mesir, Mohamed Salah, di dalam kotak penalti.
Kontak yang terjadi setelah pemain La Albiceleste Alvares menguasai bola tidak dianggap sebagai pelanggaran yang mengharuskan pemberian tendangan penalti, sehingga tidak ada pelanggaran yang dapat ditinjau melalui teknologi Video Assistant Referee (VAR).
Dengan demikian, legitimasi keputusan tersebut juga berarti tidak ada pelanggaran pada awal serangan yang berujung pada gol kemenangan ketiga Argentina, sehingga gol tersebut tetap sah dari segi wasit. Staf pelatih Mesir dan para pemainnya mengajukan protes keras terhadap keputusan wasit asal Prancis tersebut, menuntut agar diberikan tendangan penalti, itu artinya gol penentu kemenangan Enzo Fernandez minta dibatalkan, tetapi dinilai oleh wasit bukan sebuah pelanggaran.
Keputusan wasit meskipun memancing perdebatan runcing oleh sejumlah komentator pertandingan, yang menilai insiden tersebut berada di luar kewenangan VAR. Namun, penafsiran itu tidak sepenuhnya sejalan dengan ketentuan dalam Laws of the Game yang diterbitkan International Football Association Board (IFAB). Pandangan komentator tidak bisa menganulir keputusan wasit yang didasarkan pada aturan FIFA.(*)





