RadarAmbon.id — Jemaah Calon Haji (JCH) Provinsi Maluku yang akan menunaikan ibadah haji ke Baitullah tahun ini diminta tidak perlu merasa khawatir terkait dukungan subsidi dari pemerintah daerah.
Hal tersebut disampaikan Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Provinsi Maluku, Faizal Ahmad, kepada wartawan, Selasa (24/2/2026).
Faizal menegaskan, pemerintah daerah tetap bertanggung jawab terhadap pembiayaan subsidi, khususnya untuk transportasi JCH dari Ambon menuju Makassar dan kembali ke daerah asal, termasuk akomodasi charter pesawat.
Menurutnya, alokasi anggaran awal sebesar Rp1 miliar hanyalah angka “cantolan” dalam proses perencanaan. Besaran tersebut biasanya akan disesuaikan kembali menjelang keberangkatan.
“Anggaran awal Rp1 miliar itu hanya cantolan. Namun subsidi haji tetap menjadi tanggung jawab pemda, mulai dari Ambon ke Makassar hingga kembali. Biasanya menjelang keberangkatan anggaran akan ditambahkan sehingga tidak ada masalah,” jelas Faizal.
Ia juga mengimbau masyarakat, khususnya JCH, agar tidak terpengaruh oleh kekhawatiran yang sempat muncul saat pembahasan anggaran di DPRD Maluku beberapa waktu lalu.
“Yang menjadi tanggung jawab pemerintah selama ini pasti tetap ada di tahun ini. Jadi masyarakat, terutama JCH, tidak perlu takut atau khawatir,” tegasnya.
Faizal mengungkapkan, anggaran subsidi haji yang diusulkan Pemprov Maluku tahun ini sebesar Rp7,5 miliar. Nilai tersebut masih berpotensi terpenuhi penuh, meski tidak menutup kemungkinan terjadi sedikit penyesuaian.
Terkait charter pesawat, Pemprov Maluku telah melakukan survei kepada maskapai, yakni Garuda Indonesia dan Lion Air. Dari hasil penjajakan, terdapat perbedaan penawaran antara kedua maskapai.
Untuk Lion Air, kebutuhan anggaran diperkirakan sekitar Rp4,7 miliar, sedangkan Garuda Indonesia sekitar Rp4,8 miliar lebih. Namun masing-masing maskapai memiliki kelebihan dan kekurangan layanan.
Faizal menjelaskan, pada penawaran Garuda terdapat fasilitas konsumsi bagi penumpang, tetapi belum merinci secara detail terkait tanggung jawab hal lain termasuk pengangkutan air zamzam sebagai kargo.
“Kalau di Lion Air sudah dijelaskan bahwa pengangkutan Air Zamzam menjadi tanggung jawab mereka dan beberapa hal lain sudah secara rinci disampaikan.Namun untuk makan tidak ada, sementara di Lion Air tidak makan. Jadi masing-masing ada plus minus,” ujarnya.
Meski demikian, kata Faizal Ahmad, pihak Garuda Indonesia dari Nilai Rp 4,8 Miliar lebih yang disampaikan, masih ada ruang komunikasi, sementara Lion Air tetap dengan harga Rp 4,7 Miliar. (*)





