RadarAmbon.id, Jakarta — GAYA hidup nyaman dan konsumsi gula berlebihan kini tak lagi sekadar soal selera, melainkan ancaman nyata bagi masa depan kesehatan bangsa. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin secara terbuka “menampar” kesadaran publik dengan menyebut kelebihan berat badan sebagai pintu masuk berbagai penyakit mematikan di Indonesia.
Peringatan keras itu disampaikan Budi dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (19/1). Ia menegaskan, obesitas bukan isu kosmetik, melainkan persoalan serius yang berkelindan langsung dengan hipertensi, kolesterol tinggi, hingga diabetes.
“Gemuk itu masalah, dan dampaknya panjang. Tekanan darah naik, kolesterol naik, diabetes muncul,” tegas Budi.
Menurutnya, kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar mengonsumsi makanan dan minuman manis menjadi pemicu utama melonjaknya penyakit tidak menular. Ironisnya, banyak orang merasa baik-baik saja dan enggan memeriksakan kesehatan hingga penyakit sudah menyerang organ vital.
“Gula ini mother of all diseases. Dibiarkan terasa sehat, tiba-tiba kena ginjal, mata, stroke, jantung—semuanya muncul bersamaan,” ujar Budi.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) mencatat prevalensi diabetes berada di kisaran 13 persen. Namun Menkes menilai angka tersebut justru mengindikasikan rendahnya kesadaran skrining, bukan rendahnya jumlah penderita.
“Harusnya angka diabetes itu bisa mencapai 50–60 persen dari kasus hipertensi. Tapi kita belum banyak menangkapnya karena orang jarang periksa,” katanya.
Tak hanya diabetes dan obesitas, hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan juga menemukan persoalan lain yang mengkhawatirkan, mulai dari kanker payudara, gangguan kesehatan gigi, hingga masalah kesehatan mental yang dialami sekitar 10 persen penduduk.
Budi menegaskan, penyakit kardiovaskular seperti stroke dan jantung masih menjadi pembunuh nomor satu di Indonesia. Namun kabar baiknya, risiko tersebut bisa ditekan secara signifikan jika masyarakat mau mengendalikan faktor pemicu sejak dini.
“Kalau tekanan darah, gula, dan kolesterol dikontrol, penelitian menunjukkan angka kematian bisa turun 30 sampai 50 persen,” ungkapnya.
Upaya pengendalian itu kini difokuskan di puskesmas melalui program penanganan hipertensi. Dari sekitar 6 juta penderita yang terdata, baru 191 ribu orang yang tekanan darahnya berhasil dikendalikan—angka yang dinilai masih jauh dari ideal.
“Kita akui, prestasinya belum bagus. Tapi ini sedang kita kejar,” kata Budi.
Tahun ini, Kementerian Kesehatan menargetkan 90 persen penderita hipertensi dapat terkontrol lewat pemberian obat generik murah dan pemantauan rutin di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
“Terkendali artinya minum obat rutin dan hasil pemeriksaan konsisten turun. Kalau itu tercapai, masyarakat tak perlu bolak-balik rumah sakit,” jelasnya.
Pernyataan Menkes ini sekaligus menjadi peringatan keras: jika pola hidup tak berubah, Indonesia berisiko menuai bonus penyakit, bukan bonus demografi. Namun dengan kesadaran dan langkah dini, ancaman itu masih bisa dibalik menjadi peluang hidup lebih sehat.(*)





