Timnas Belanda dan Kutukan Yang Terus Melekat

  • Bagikan

RadarAmbon.id – Harapan besar yang mengiringi langkah Timnas Belanda di Piala Dunia 2026 kembali berakhir dengan kepedihan. Setelah tampil meyakinkan sepanjang fase grup, De Oranje harus mengubur mimpi lebih cepat usai disingkirkan Maroko melalui drama adu penalti. Kekalahan itu bukan sekadar menghentikan langkah mereka di turnamen, tetapi juga kembali mengingatkan dunia pada kutukan panjang yang selama puluhan tahun membayangi salah satu kekuatan terbesar sepak bola Eropa tersebut.

Di bawah arahan Ronald Koeman, Belanda sebenarnya datang dengan status sebagai salah satu kandidat kuat juara. Mereka tampil impresif sejak awal kompetisi dengan hasil seri melawan Jepang 2-2, membantai Swedia 5-1, dan mengalahkan Tunisia 3-1 untuk memastikan diri sebagai juara Grup F. Produktivitas lini depan serta permainan kolektif yang solid membuat banyak pengamat meyakini generasi kali ini mampu mengakhiri penantian panjang meraih trofi Piala Dunia pertama.

Namun, optimisme itu runtuh ketika menghadapi Maroko di fase gugur pada Selasa (30/6/26). Tim asal Afrika tersebut kembali membuktikan diri sebagai lawan yang sulit ditaklukkan. Setelah bermain imbang 1-1 sepanjang waktu normal dan perpanjangan waktu, Maroko tampil lebih tenang dalam adu penalti dan menang 3-2. Kekalahan tersebut memaksa Belanda angkat koper lebih awal, mengikuti jejak Jerman dan Jepang yang lebih dahulu tersingkir dari turnamen.

Bagi Belanda, hasil ini menambah panjang daftar kegagalan di Piala Dunia. Sejak debut pada 1934, De Oranje telah tampil dalam 12 edisi hingga 2026. Mereka pernah tiga kali mencapai partai final, masing-masing pada 1974, 1978, dan 2010, tetapi selalu gagal mengangkat trofi. Selain itu, Belanda juga pernah finis di peringkat ketiga pada 2014, menembus semifinal pada 1998, serta mencapai perempat final pada 1994 dan 2022.

Sejarah panjang itu membuat Belanda menyandang julukan sebagai “raja tanpa mahkota” di Piala Dunia. Generasi demi generasi silih berganti menghadirkan pemain-pemain kelas dunia, mulai dari Johan Cruyff, Marco van Basten, Dennis Bergkamp, Arjen Robben, Wesley Sneijder, Robin van Persie hingga Virgil van Dijk. Namun, satu hal yang belum pernah berubah adalah kegagalan membawa pulang trofi paling bergengsi di sepak bola.

Sementara itu, kemenangan atas Belanda semakin menegaskan status Maroko sebagai kekuatan baru sepak bola dunia. Setelah mencetak sejarah dengan menembus semifinal Piala Dunia 2022, wakil Afrika tersebut kembali menunjukkan mental juara di edisi 2026. Keberhasilan menyingkirkan De Oranje menjadi bukti bahwa Maroko kini bukan lagi tim kejutan, melainkan lawan yang mampu menggagalkan ambisi negara-negara besar di panggung dunia.

Bagi Belanda, Piala Dunia 2026 kembali menjadi kisah tentang harapan yang kandas. Dominan di fase grup, dihuni pemain berkualitas, dan digadang-gadang sebagai calon juara, tetapi lagi-lagi gagal ketika momen penentuan tiba. Kutukan tiga final tanpa gelar pun masih terus melekat, menyisakan pertanyaan besar: sampai kapan De Oranje akan terus menjadi raksasa tanpa mahkota?(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *