RadarAmbon.id – Di antara hiruk-pikuk Pasar Mardika, Ambon, tiga remaja berdiri dengan senyum sederhana dan tangan yang tak pernah berhenti merangkai bunga. Mereka bukan sekadar penjual musiman. Di balik setiap buket yang dijajakan, ada cerita tentang tanggung jawab, persahabatan, dan mimpi yang tumbuh perlahan.
Iyan, siswa SMA Negeri 13 Ambon, tampak paling sibuk merapikan rangkaian bunga berwarna-warni. Di sampingnya, Ridho dan Nabil membantu menawarkan dagangan kepada para pembeli yang lalu lalang. Ketiganya masih duduk di bangku sekolah, namun siang ini mereka memilih berada di pasar, bukan untuk bermain, melainkan untuk bekerja.
Bunga-bunga yang mereka jual bukan tanpa tujuan. Menjelang Hari Guru Nasional, permintaan meningkat. Momen ini mereka manfaatkan untuk mengais rezeki tambahan. “Kalau ramai, bisa sampai dua ratus ribu sehari,” ujar Iyan sambil tersenyum tipis. Namun saat hujan turun, harapan itu sering ikut redup. “Kadang cuma seratus ribuan,” tambahnya.
Meski begitu, semangat mereka tak pernah surut. Berjualan dimulai sejak pukul 10.00 WIT, setelah memastikan kewajiban sekolah tetap terpenuhi. Tidak ada paksaan dari siapa pun. Keputusan ini lahir dari kesadaran sendiri, keinginan sederhana untuk membantu orang tua.
Harga bunga yang mereka tawarkan pun terjangkau. Buket cantik dihargai Rp40 ribu, sementara bunga biasa dijual dua tangkai seharga Rp15 ribu. Di tangan mereka, bunga bukan sekadar komoditas, melainkan simbol kasih dan penghargaan terutama bagi para guru yang akan diperingati jasanya.
Ridho, yang masih bersekolah di SMP Negeri 14 Ambon, dan Nabil dari SMP Jaya Negara, tampak tak canggung berbaur dengan dinamika pasar. Meski usia mereka masih muda, cara mereka memaknai kerja terasa dewasa. Mereka belajar tentang arti usaha, tentang nilai uang, dan tentang pentingnya berdiri di atas kaki sendiri.
Di tengah keramaian Pasar Mardika, kisah mereka mungkin hanya sekelebat bagi sebagian orang. Namun bagi yang mau berhenti sejenak dan melihat lebih dekat, ada pelajaran berharga: bahwa kemandirian tidak mengenal usia, dan mimpi bisa dirangkai, setangkai demi setangkai seperti bunga yang mereka jual setiap hari.
Ketika Hari Guru tiba, mungkin banyak bunga berpindah tangan sebagai tanda terima kasih. Namun, sedikit yang tahu bahwa di balik bunga-bunga itu, ada tiga anak muda yang sedang menanam harapan mereka sendiri di sela-sela waktu sekolah, di tengah riuhnya pasar, dan di bawah langit Ambon yang tak selalu cerah belakangan ini.(*)






