RadarAmbon.id – SUASANA Lantai 5 Ballroom Hotel Santika Ambon tadi malam tampak teduh. Di tengah keteduhan itu seketika semua terharu saat mereka melihat Ustad Fatih Karim menangis di hadapan ratusan undangan yang didominasi para remaja perempuan, ibu-ibu majelis taklim dan para remaja pria itu.
Ustad Fatih yang kita kenal sebagai pendakwah yang tak lain Ketua Indonesia Al-Quran Foundation itu, tak tahan menahan emosi saat bercerita dan mengingat masa lalunya yang dibesarkan dari kedua orang tuanya yang tidak harmonis.
Ustad Fatih memang sengaja diundang ke Ambon oleh Ketua Yayasan Ar Rahmah Ambon Habib Rifqi Alhamid (HRA) menjadi pembicara dalam dialog khas “Dudu Bacarita Deng Habib’s” bertema: Catatan Hati Anak yang Runtuh, yang digagas Yayasan Ar Rahmah, Ambon, Sabtu, (15/8/26).
Mendengar cerita dan pengalaman Ustad Fatih para undang ikut terkesima. Wakil Walikota Ambon Ibu Elly Toisutta yang juga membuka dialog khas Episode 6 Dudu Bacarita Deng Habib’s yang diinisiasi HRA juga ikut larut. Bertindak sebagai moderator adalah HRA.

Ustad Fatih pun mengisahkan pengalaman hidupnya. Di lingkungan keluarga Ustad Fatih dulu tergolong tidak bahagia. Sebab, sejak duduk di bangku Kelas 3 SD kehidupan rumah tangga kedua orang tuanya di tempat tanah kelahirannya di Kota Medan tidak lagi akur.
Jadi, kalau ditanya kepada Ustad Fatih apakah ia pernah merasakan kecewa menghadapi suasana rumah tangga semacam itu?
“Saya sungguh kecewa dan marah. Tak tahan melihat mereka berantem hingga larut malam. Saya tak tega dan sedih melihat ada KDRT. Tak tahan melihat ibu saya diseret hingga harus memilih berpisah dengan ayah kami,” ujarnya sembari menundukkan kepala mengusap air mata.
Itulah mengapa dampak dari suasana kehidupan rumah tangga yang tidak harmonis. Selalu saja membawa efek negatif, emosi, dan perasaan dendam.
Fenomena itu tentu tak baik dalam kehidupan sebuah rumah tangga jika alasan perceraian itu hanya karena masalah hawa nafsu atau tempat tidur.
Saking emosi untuk mengambil gambar saat wisuda pun mereka tak mau bersama anaknya dan memilih foto berpisah dengannya. “Itulah bahaya perceraian karena konflik dalam sebuah rumah tangga,” ujar Ustad Fatih menceritakan pengalamannya.
Sejak orang tuanya berpisah ia pun harus memilih sikap. Mengikuti ayah atau ibu. Ustad Fatih memilih ibu.
Mengapa harus ibu? Perhatikanlah orang hebat dan sukses mereka itu pastilah orang-orang yang berbakti kepada ibunya.
Mengutip pendapat pemikir, Ustad Fatih, mengatakan kalau seseorang ingin menjadi seorang raja maka jadikanlah ibunya seperti ratu. Dari sana akan lahir seorang yang luar biasa.
Berbilang tahun sang ayah kemudian menikah lagi dengan perempuan lain. Juga ibunya. Setelah merantau menjadi TKI di Malaysia sang ibu memilih kawin lagi dengan pria lain di Negeri Jiran.
Sayang, pernikahan mereka tak lama. Sang ibu pun lagi-lagi mengalami nasib yang sama: KDRT. Hingga berujung pisah lagi dengan pria asal Malaysia itu lalu kemudian memilih pulang ke Indonesia.
Sebelum mereka memilih kawin lagi kedua orang tua Ustad Fatih selalu meminta izin anaknya. Walau tetap diliputi rasa kecewa dan sedih sebagai anak ia tentu tidak keberatan atau melarang jika mereka kemudian harus memilih pasangan baru lagi.
Di situlah ujian datang. “Rasanya berat kalau melihat ada dua matahari kembar dalam rumah tangga,” ujarnya.
Tak tahan melihat ibunya di-KDRT-kan, ia pun harus menghadapi suasana baru di hadapan ibu dan ayah yang baru saja menikah itu.
Sejak kedua orang tuanya menikah lagi ia pun dititipkan ke keluarga dekatnya sambil menyelesaikan studi di bangku sekolah hingga S1 di Kampus Universitas Padjajaran Bandung.
Ada perasaan emosi, marah, dan dendam yang melekat dalam dirinya. Seperti umumnya keluarga yang dilahirkan dalam kondisi broken home selain bandel kadar emosi kerab tidak stabil. Efek itu pula kemudian merembet ke anak-anak.
Bila mengingat hal itu Ustad Fatih seolah terbawa emosi saat mengenang ibu-bapaknya yang berantem hingga larut malam dan membuat mereka bercerai.
Meski lahir dari keluarga tidak rukun tak membuat sang ustad ini menyerah. Jika ada anggapan keluarga broken home selalu berkonotasi negatif tidak dengan Ustad Fatih.
Ia malah memilih tenang. Apa yang terjadi atas orang tuanya itu ia jadikan sebagai i’tibar (pelajaran) tentu setelah menempuh kuliah. Sejak itulah ia terus belajar mengikuti kajian di mesjid kampus dan tempat-tempat pengajian untuk memperkuat mindset.
Keimanan itu tak mungkin buruk. Kalau perceraian ibu dan bapaknya itu takdir, menurut Ustad Fatih, kita harus cintai takdir itu. Sebab di situlah kadar keimanan kita diuji. Jika kita jauhi dan menghindari dari takdir maka kita semakin jauh dari kadar keimanan kita.
Meski kedua orang tuanya sudah memilih pasangan masing-masing Ustad Fatih tetap mengirim sebagian gajinya untuk mereka sebagai bentuk penghormatan.
Dari “luka” keluarga ini ia mendapat banyak hidayah, hikmah, dan pelajaran. Ia mengingatkan saat menghadapi konflik batin keluarga yang diliputi oleh suasana emosi dan dendam seperti itu hanya ada dua jalan yang membuat kita bisa selamat atau terpuruk. Yaitu jalan jahat dengan tetap memendam emosi dan dendam atau jalan takwa. Ustad Fatih lebih memilih jalan takwa.
Setelah mengikuti pengajian dan ceramah dari situlah dia temukan banyak hikmah bahwa emosi dan dendam itu tidak akan pernah hilang sepanjang hidup. Berbilang tahun suasana batin itu tidak akan redup malah terus terekam dalam ingatan dan memori kita.
Ini juga berlaku untuk mereka yang ditinggal kekasih. Atau salah paham dari seorang anak kepada orang tua. Pun sebaliknya saat emosi atau ada perasaan dendam dari seorang ibu atau bapak kepada anaknya.
Kata Ustad Fatih, dalam kehidupan tidak ada jalan untuk menghilangkan yang namanya emosi dan dendam kecuali dengan jalan memaafkan. “Saya memilih memaafkan atas sikap saya kepada ibu dan ayah saya itu,” ujar suami Ustazah Ummu Sajjad, itu.
Sejak itu setiap waktu Ustad Fatih selalu belajar dan mengkaji ilmu-ilmu agama sebagai jalan dakwah. Ini pula mengantarkan Ustad Fatih menjadi seorang pendakwah hebat.
Saat ini tidak kurang 350.000 alumni Lembaga Indonesia Al-Quran Foundation yang dibidaninya telah tersebar di seluruh Indonesia hingga mancanegara.
Melalui Indonesia Al-Quran Foundation ia sudah mendirikan beberapa buah mesjid megah selain di Indonesia juga di luar negeri dan terbaru di Canada, Jepang, dan menyusul Afrika.
“Ini bagian dari jalan pengabdian dan amal usaha saya untuk diabadikan kepada kedua orang tua almarhumah ibu dan ayah saya,” ujarnya sambil menangis.
Lalu, bagaimana hubungan Ustad Fatih dengan sang kekasihnya Ustazah Ummu Sajjad?
Menjawab pertanyaan moderator HRA, di hadapan undangan Ustad Fatih menganggap Ummu Sajjad adalah cinta pertama dan terakhir. Sejak ia menyatakan untuk menikah kepada perempuan asal Kota Bandung 21 tahun lalu itu Ustad Fatih bergeming.
Ia percaya Ummu Sajjad adalah wanita terakhir dalam hidupnya. Kata sang ustad, supaya bisa terbang kita harus punya dua sayap. Dan salah satu sayap itu adalah Ummu Sajjad.
Pun broken home, kata Ustad Fatih, tidak menurun secara genetik pada keturunan. Karena itu tak perlu ada matahari kembar. (AHMAD IBRAHIM)





