RadarAmbon.id – Persoalan menipisnya stok bahan medis untuk layanan cuci darah di RSUD Haulussy Ambon menuai sorotan. Dugaan adanya tunggakan pembayaran kepada pihak ketiga atau vendor penyedia bahan medis menjadi salah satu faktor yang disebut-sebut menghambat kelancaran pasokan ke rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Maluku tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun RadarAmbon.id, Kamis (3/9/2026), terdapat dugaan kewajiban pembayaran kepada vendor yang belum diselesaikan manajemen RSUD Haulussy. Nilai tunggakan tersebut disebut mencapai sekitar Rp600 juta dan berasal dari kebutuhan layanan pada tahun 2025 hingga 2026.
Salah satu sumber yang meminta identitasnya tidak disebutkan mengungkapkan, keterlambatan distribusi bahan medis tidak semata-mata disebabkan faktor teknis pengiriman, tetapi juga berkaitan dengan persoalan administrasi pembayaran kepada penyedia barang.
“Informasi yang kami terima, vendor belum kembali mendistribusikan kebutuhan karena persoalan pembayaran yang belum diselesaikan. Ini yang perlu menjadi perhatian,” ujar sumber tersebut kepada media ini.
Sumber itu menilai alasan yang sebelumnya disampaikan Direktur RSUD Haulussy Ambon dr.Winny.N. Lewakabessy kepada salah satu media merupakan alasan kamuflatif untuk menutupi kondisi sebenarnya.”Alasan paling konkrit itu adalah belum dilakukan pembayaran hutang kepada pihak vendor, sehingga Vendor belum bisa melakukan pendistribusian kembali,”ujarnya.
Sumber itu menyebutkan, saat ini terdapat lebih dari 70 pasien di RSUD Haulussy Ambon yang membutuhkan cairan untuk cuci darah. Ini harusnya menjadi perhatian serius. Sebab jika tidak maka bisa berdampak buruk bagi keselamatan pasien -pasien tersebut.”Kalau Pasien gagal cuci darah maka mereka bisa sesak nafas dan bisa mati karena salah satu fungsi ginjal tidak berfungsi. Kalau ada cairan maka bisa dilakukan cuci darah supaya bisa memfiltrasi racun yang ada di dalam pasien itu, “tutur Sumber itu.
Sumber tersebut juga mempertanyakan alasan kenapa pihak Manajemen tidak melunasi hutang ke Vendor sehingga tidak ada hambatan bagi distribusi cairan. Sumber lantas mempertanyakan dana sebesar Rp 9,8 Miliar yang dicairkan BPJS untuk hutang Covid dikemanakan dan peruntukannya untuk apa.
Manajemen RSUD Haulussy sebelumnya menjelaskan bahwa menipisnya stok bahan medis habis pakai (BMHP) untuk layanan hemodialisis terjadi akibat kendala distribusi pengiriman dari Jakarta menuju Ambon.
Direktur RSUD Haulussy Ambon, dr. Winny N. Leiwakabessy, Sp.PA, M.Kes, sebelumnya kepada salah satu media online mengatakan, kebutuhan BMHP cuci darah tidak tersedia langsung di Ambon dan harus dipesan dari Jakarta. Pesanan yang dilakukan sejak pertengahan Agustus mengalami keterlambatan akibat kendala jadwal pengiriman kapal laut dan kondisi cuaca di perairan Indonesia.
Winny menambahkan, bahan medis untuk layanan hemodialisis tidak dapat dikirim melalui jalur udara, sehingga rumah sakit harus menunggu pengiriman melalui ekspedisi laut.(*)





