RadarAmbon.id. KABAR duka itu tetiba terlintas di beranda medsos kawan saya: Pemimpin Redaksi SUARA MALUKU Novi Pinontoan. Ia berkabar kalau dinihari tadi Bung OL telah berpulang menghadap Sang Khalik, di RS. Gereja Protestan Maluku (GPM), Ambon.
Sebagai sahabat kepergian kawan kami Bung OL yang terkesan mendadak itu tentu membawa duka mendalam. Kabar duka itu baru terbaca saat saya terjaga pukul 03.00 WIT dinihari tadi, Sabtu, (27/6/26).
Almarhum Bung OL tak lain adalah: Ongky Louhenapessy, Bos Direktur Utama (Dirut) Harian SIWALIMA.
Bung OL, Bung Novi, dan saya adalah teman baik dalam kerja-kerja jurnalistik di Ambon.
Meski jarang bertemu, kami bertiga pernah terbang bersama menggunakan pesawat Lion Air dalam sebuah perjalanan: Ambon-Surabaya-Batam. Tiba di Batam kami juga menempati hotel yang sama: Hotel Harris, Februari 2013.
Saya dan Bung Novi sekamar sementara almarhum di kamar berbeda.
Ada juga rekan sesama pengurus SPS Maluku yang ikut dalam rombongan yang sama yakni Ketua Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Maluku Bang Machfud “Ade” Waliulu, Sekretaris SPS dan wartawan The Jakarta Post Aziz Agil Tuny, Ketua PWI Kab.Buru Abdul Rasyid “Lily” Ohorella, dan wartawati Suara Maluku Febby Kaihatu.
Saat itu kami memang mendapat undangan khusus sebagai Pemred dari Ketua SPS Maluku Machfud Waliulu dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari 2013.
Usai mengikuti acara Munas SPS di Hotel Harris dilanjutkan dengan Konvensi Nasional HPN 2013 di Hotel Batam Convention.
Acara itu sedianya dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo tapi batal dan digantikan oleh Wapres HM.Jusuf Kalla.
Di acara konvensi itu kami menyaksikan pemaparan materi yang disampaikan Menteri Perikanan dan Kelautan Pudji Astuti seputar banyaknya ditemukan pencurian ikan di perairan Indonesia oleh kapal ikan asing khususnya di laut Maluku dan Natuna.
“Ada lebih 200 kapal ikan asing yang ditangkap menggunakan bendera Indonesia. Tapi dari jumlah itu hanya sekitar 20 kapal yang memiliki izin sah. Selebihnya tidak berizin,” ujar Pudji Astuti di hadapan para Pemred itu.
Duduk di deretan kursi itu selain almarhum OL, Bung Novi, Machfud “Ade” Waliulu, Bang Aziz, dan Febby Kaihatu, juga tampak Pemred MBM TEMPO Toriq Hadad, dan Pemred Harian KOMPAS Suryopratomo.
Mendengar pemaparan Menteri Pudji Astuti itu para Pemred terlihat serius menatap ke arah Pudji Astuti.
Kepergian Bung OL tentu mengundang rasa duka mendalam bagi rekan-rekan wartawan di Kota Ambon. Di tangan Bung OL ini ia telah berjasa melahirkan banyak wartawan semenjak almarhum berkiprah sebagai wartawan dan pengelola Radio PELANGI dan kini Dirut Surat Kabar SIWALIMA, itu.
Meski pernah aktif sebagai pengelola media Koran Ambon Ekspres saya jarang bertemu dengan Bung OL. Kalau pun berjumpa ketika berpapasan di jalan. Atau berkomunikasi dan saling membalas WA untuk ucapan jelang Lebaran, Ramadan, Natal dan Tahun Baru. Terakhir ia mengirimkan saya slide ucapan Hari Raya Idul Fitri 27 Mei 2026.
Kecuali akhir tahun 2004 pernah sekali saya diundang oleh almarhum dalam posisi saya sebagai Koordinator Maluku Media Center (MMC) untuk menjadi narasumber di Radio PELANGI terkait masalah penanganan resolusi konflik.
Saat itulah selain dengan almarhum OL saya juga bisa akrab mengenal lebih dekat rekan wartawan Radio PELANGI yang lain: Bung Andi Sagat, Bung Zen Anwar, dan penyiar top Mey Chresentya Rahail.
Saat di Batam barulah saya lebih dekat mengenal almarhum sebagai seorang yang low profile dan senang bercanda.
Hal itu tampak saat kami mau kembali terbang ke Ambon. Usai HPN hari itu kami harus bergegas untuk checkout meninggalkan Hotel Harris menuju bandara.
Saat menuruni Lantai 4 hotel, kami berpapasan di lift yang sama: saya, Bung Novi, almarhum OL, wartawati Febby Kaihatu, dan Bang Aziz Tuny.
Begitu pintu lift terbuka di lantai lobby hotel kami menggenggam tas dan barang bawaan masing-masing. Saya pun bertanya dengan nada kelakar ke Bung Novi, “Kok tidak kelihatan senjata. Mana senjatanya.”
Mendengar kata “senjata” seketika almarhum OL pun bereaksi. Kaget. Raut wajah, mimik, dan intonasi suaranya pun menggelegar di depan pintu lift.
“Tuangala senjata apa itu,” kata almarhum.
“M-16,” jawab saya bergurau.
“Wah bahaya katong seng bisa pulang ke Ambon lae,” ujarnya dengan dialek khas Ambon.
Seketika Bung Nov kembali bergegas ke lift naik ke kamar mengambil barang yang masih tertinggal di kamar hotel itu.
Saya pun memberi tahu ke almarhum OL kalau “senjata” M-16 yang saya maksud tak lain tongkat pengaman atau alat bantu kaki yang biasa dipakai kawan saya Bung Nov.
“Beta kira senjata betul. Kalau benar itu M-16 cilaka katong. Seng bisa terbang ke Ambon lae. Tinggal di Batam saja,” ujar almarhum dengan intonasi Ambon sembari terkekeh saat kami menuju resepsionis untuk mengembalikan kunci kamar.
Sebagai Dirut SIWALIMA ia adalah figur yang supel. Selain senang bergurau, nada bicaranya halus. Intonasi atau logat bahasa khas Ambon yang kental itu sangatlah terkesan.
Belakangan saya baru tahu kalau almarhum ternyata juga seorang yang dermawan. Suka mengulurkan tangan membantu orang lain.
Selamat jalan sahabat. Semoga tenang dan damai di sisiNya. (AHMAD IBRAHIM)





