Mesjid BTN Kanawa Ambon Sembelih 14 Ekor Sapi dan 12 Kambing

  • Bagikan

Sumbangan Gubernur, Kapolda, Hingga Pengacara

RadarAmbon.id – TAHUN ini jumlah hewan kurban yang disembeli di Mesjid Al-Kautsar BTN Kanawa Ambon sebanyak 14 ekor sapi dan 12 ekor kambing. Dari jumlah 14 ekor sapi itu antara lain adalah pemberian Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, Kapolda Maluku Irjen Pol. Dadang Hartanto, dan Pengacara DR.Fachry Bachmid, Rabu, (27/5/26).

Setiap tahun di lokasi di BTN Kanawa Indah Ambon ini selalu mendapat jatah hewan kurban sapi dan kambing baik perorangan maupun kelompok.

Tentang hakikat pemotongan hewan kurban di Hari Raya Idul Adha, menurut DR Muhammad Mualim yang bertindak sebagai Khatib Idul Adha di mesjid tersebut, pada prinsipnya merupakan perintah bagi yang mampu.

“Jangan kemudian kita mengutak-atik dengan akal manusia dan mencari-cari alasan untuk menggantikan makna kurban hewan itu dengan metode lain karena alasan zaman yang sudah berubah,” ujarnya.


Perintah berkurban berupa hewan itu hukumnya syar’i. Tidak boleh kita ubah dengan pendekatan akal manusia untuk mengganti dengan metode lain.

Jangan karena zaman telah berubah kita kemudian mentakfiri atau mengakali hukum kurban karena ini sudah terkait masalah syariah. Sudah menyangkut keyakinan yang tak bisa ditakfiri atau diakali.

Sebagai pengingat, DR.Mualim menegaskan bahwa saat ini orientasi pendidikan kita telah tergerus oleh kemajuan teknologi.

Pendidikan tak lagi dilihat sebagai wahana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, tapi justeru telah menjauhkan diri kita dari sifat-sifat ketuhanan termasuk dengan cara mengotak-atik nilai-nilai syariah dengan akal manusia.

“Manusia pada hakikatnya diciptakan dalam kondisi hina. Karena itu tak layak untuk kita berlaku sombong. Teknologi mestinya membuat kita semakin dekat dengan Allah bukan sebaliknya menjauhkan diri kita dari Allah SWT,” ujarnya.

Dalam khotbahnya, dosen Universitas Islam Negeri (UIN) AM.Sangadji Ambon itu mengingatkan bahwa Idul Adha mengajarkan kita untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagaimana kisah Nabi Ibrahim yang mengurbankan anaknya Nabi Ismail.

“Karena untuk memenuhi perintah Allah SWT Nabi Ibrahim harus rela mengurbankan puteranya Ismail,” ujarnya.

Di sini, kata Dr.Mualim, Allah SWT sedang menguji seberapa jauh ketaatan Nabi Ibrahim menaati perintahNya. Meskipun kemudian yang terjadi Allah SWT menggantikannya Ismail dengan seekor domba.

Fenomena yang terjadi saat ini kita kerab menjumpai di antara kita lebih banyak menghabiskan waktu tidak untuk beribadah kepada Allah SWT tapi lebih banyak menghabiskan waktu di hadapan aplikasi handphone karena urusan dunia.

“Apa yang kita lihat saat ini kita menghabiskan waktu ketika berhadapan dengan teknologi smartphone ketimbang menghadap Allah SWT untuk beribadah,” ujarnya.

Ia mengatakan fenomena manusia kontemporer itu terlihat saat berhadapan dengan handphone mereka bisa duduk berjam-jam. Uniknya, begitu tiba waktu ibadah mereka tak bisa duduk berlama-lama. Agama tidak lagi menjadi faktor utama justeru yang diutamakan masalah dunia.

“Ini fenomena manusia kontemporer. Akibat pengaruh teknologi digital. Mereka lebih asyik pada persoalan yang viral, itulah yang membuat mereka jauh dari Allah dan agama tidak lagi menjadi masalah utama,” ujarnya.

Menurut Dr Mualim kemajuan teknologi tidak harus membuat kita antipati, tapi mestinya membuat kita lebih dekat denganNya.

Perintah bertakbir selama lima hari sejak dimulainya Hari Raya Idul Adha menunjukkan pada kita bahwa di sana ada nilai pahala. Beda dengan membaca Al-Quran. Selain ada perintah membaca juga untuk mereka yang mendengarkan bacaan Al-Quran ikut mendapat pahala.

Tapi beda dengan takbir. Di sana ada kata perintah: bertakbirlah. Perintah di sini harus keluar melalui rongga mulut yang terhubung dengan telinga, bukan hanya mendengarkan.

Akibat pengaruh digitalisasi itu kita jarang mendengarkan ada suara takbir di mesjid-mesjid langsung keluar dari rongga mulut, tapi lebih banyak sudah teraplikasi melalui smartphone. “Padahal bertakbir itu sifatnya perintah. Bukan justeru mendengar lewat aplikasi,” ujarnya.

Bertindak sebagai imam salat Idul Adha tahun ini di Mesjid BTN Kanawa Indah Ambon yakni Dr.Ibnu Jarir. (DIB)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *