Setahun Wafat, Rumah H.M. Alwi Hamu Dipenuhi Shalawat dan Dzikir Santri Tahfiz

  • Bagikan

RadarAmbon.id -MAKASSAR -Pagi itu, Jalan P. Tendean Blok J No. 14, tak sekadar menjadi alamat sebuah rumah. Ia berubah menjadi ruang rindu. Sejak jarum jam menunjuk pukul 09.00 WITA, lantunan shalawat dan dzikir perlahan mengalir dari dalam kediaman almarhum H.M. Alwi Hamu, menembus dinding-dinding rumah yang setahun terakhir menyimpan sunyi kehilangan.

Suara-suara itu lembut, nyaris berbisik, namun sarat makna. Seolah setiap bait shalawat menjadi salam rindu bagi seorang tokoh yang telah berpulang, namun jejak hidupnya tak pernah benar-benar pergi.

Satu per satu tamu berdatangan. Keluarga, kerabat, sahabat, hingga karyawan lama almarhum menyatu dalam suasana khidmat. Wajah-wajah yang hadir tampak tenang, namun mata mereka menyimpan cerita tentang kenangan, keteladanan, dan kebaikan yang pernah mereka terima dari sosok H.M. Alwi Hamu.

Di dalam rumah, deretan santri Yayasan Rumah Tahfiz Alwi Hamu duduk rapi. Balutan busana putih dan Al-Qur’an di tangan mereka menciptakan pemandangan yang menggetarkan hati. Ayat-ayat suci dilantunkan serempak, lirih namun teratur, memenuhi ruangan dengan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Di situlah rasa haru perlahan menyusup. Bagi banyak yang hadir, pemandangan para santri itu bukan sekadar ritual tahlilan, melainkan potret nyata dari warisan kebaikan almarhum, amal jariyah yang terus hidup, bahkan setelah ajal memisahkan.

Rangkaian doa diawali dengan Surah Al-Fatihah, dilanjutkan pembacaan Surah Yasin dan tahlil yang dipersembahkan khusus untuk almarhum. Doa dipimpin Ustaz Rahmatullah, didampingi Ustaz Habibie dan Ustaz Naim. Setiap lafaz doa terasa berat, namun menenangkan, seakan mengantar harapan agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Di bagian depan rumah, anak ketiga almarhum, H.M. Agus Salim Alwi Hamu, duduk menyambut para tamu. Senyumnya tenang, namun tersirat ketegaran seorang anak yang belajar berdamai dengan kehilangan. Satu per satu tamu disapanya, mewakili keluarga besar untuk mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan doa yang dipanjatkan.

Dalam sambutannya, Agus Salim mengungkapkan kembali pesan almarhum semasa hidup, sebuah cita-cita sederhana namun bermakna besar, yaitu membangun rumah tahfiz.

“Kita patut bersyukur. Rumah Tahfiz Alwi Hamu yang baru berjalan sekitar tiga bulan ini sudah menunjukkan perkembangan luar biasa. Para santrinya telah mampu menghafal hingga tiga juz Al-Qur’an,” ujarnya, Senin (19/1/2026).

Ucapan itu sontak mengundang rasa bangga sekaligus haru. Bagi keluarga, rumah tahfiz tersebut bukan hanya bangunan fisik, melainkan napas panjang dari nilai-nilai yang selama ini dihidupi almarhum.

Tahlilan setahun wafat ini turut dihadiri seluruh anak almarhum, di antaranya Deniari, Widyawati, H.M. Subhan, dan H.M. Hatta, bersama anggota keluarga lainnya. Kehadiran para cucu menambah kehangatan suasana, meski rindu dan kehilangan tetap terasa menggantung di udara.

Doa demi doa terus dipanjatkan. Bukan hanya untuk almarhum, tetapi juga agar keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan keikhlasan.
Setahun telah berlalu sejak H.M. Alwi Hamu berpulang.

Namun pagi itu menjadi bukti bahwa kepergian tidak selalu berarti akhir. Dalam shalawat yang dilantunkan, dalam hafalan para santri, dan dalam setiap doa yang terucap, sosok H.M. Alwi Hamu tetap hidup, menyapa, menginspirasi, dan mengajarkan bahwa kebaikan sejati tak pernah mati.(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *