RadarAmbon.id – AMBON – Kamis pagi, 28 Agustus 2025, halaman SMK Negeri 1 Ambon dipenuhi para pencari kerja dari berbagai usia dan latar belakang. Mereka berdesakan sejak matahari terbit, membawa map cokelat berisi dokumen lamaran, berharap mendapat kesempatan kerja di tengah persaingan yang kian ketat. Job fair ini menjadi ruang harapan baru bagi mereka yang masih menganggur, sebagian bahkan telah mencoba peruntungan berulang kali.
Di tengah semakin sesaknya jumlah angkatan kerja yang bertambah saban tahun, job fair menjadi oase yang dinanti. Bagi sebagian orang, inilah satu-satunya pintu kecil yang mungkin terbuka menuju dunia kerja. Bagi yang lain, sekadar kesempatan kedua, ketiga, bahkan kesekian kali untuk mengadu nasib di tanah kelahiran sendiri.
Lalu lintas di Jalan Pintu Ina, Karang Panjang, sempat tersendat. Antusiasme pencari kerja yang membludak membuat jalan raya kian riuh. Ambon yang mungil mendadak terasa sesak oleh harapan yang membuncah.
Mican, 30 tahun, adalah satu dari ribuan wajah itu. Senyumnya tampak getir saat menceritakan perjalanannya melamar pekerjaan. Berkali-kali mencoba, baik sebagai calon aparatur sipil negara maupun ke perusahaan swasta, tak satupun berbuah manis. Namun semangatnya belum padam.
“Ini kesempatan emas. Zaman sekarang lowongan sangat sulit, apalagi di Ambon kota kecil. Saya hanya bisa berharap, kalau Tuhan berkenan, pasti ada jalan,” ujarnya lirih.
Tak hanya kaum muda, mereka yang berusia senja pun turut hadir. Remon Sihaya, 50 tahun, menegaskan bahwa job fair adalah ruang harapan bagi generasi muda Maluku.
“Kita tak bisa selamanya bergantung jadi pegawai negeri. Kesempatan ini harus dipakai sebaik mungkin. Yang utama bukan soal kenal orang, tapi kualitas pendidikan dan kemampuan yang kita punya,” katanya mantap.
Di balik kerumunan, terselip kegelisahan yang tak terucap. Data Dinas Tenaga Kerja Maluku menyebut lebih dari 50 ribu jiwa masih menyandang status pencari kerja. Angka yang tak hanya menjadi beban pemerintah, tapi juga luka sosial yang dirasakan ribuan keluarga.
Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Maluku, UL Joy Sangadji, melihat langsung potret itu. “Antusias peserta menggambarkan kondisi kita. Banyak lulusan yang masih menjadi beban orang tua. Melalui job fair seperti ini, kita berharap ada pintu keluar yang lebih jelas,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemerintah berupaya memperbanyak kegiatan serupa dengan membuka jaringan lebih luas antara sekolah, dunia usaha, dan industri. Harapannya, lulusan muda Maluku tidak hanya menunggu, tapi juga diberi ruang untuk dihidupi oleh tanah kelahirannya.
Ketua panitia, Elsina Ferdinandus, tak menyangka jumlah peserta akan membeludak. “Job fair ini dibuka untuk umum, bukan hanya lulusan SMK Negeri 1 Ambon. Pesertanya benar-benar di luar ekspektasi kami,” ucapnya.
Sebanyak 14 perusahaan ambil bagian dalam gelaran ini. Dari ritel besar, perbankan, hotel, hingga lembaga keuangan, semua membuka pintu bagi ribuan pelamar yang menggantungkan harapan.
14 perusahaan itu, pertama, PT. Midi Utama Indonesia, Tbk. Kedua, Mr. DIY-Ambon Citi Center. Ketiga, PT. Matahari Departemen Store, Tbk- Ambon City Center. Keempat, PT. Matahari Departemen Store, Tbk- Ambon Plaza. Kelima, PT. Ramayana Lestari Sentosa, Tbk-Ramayana MCM Ambon. Keenam, PT. Supra Boga Lestari, Tbk-Farmers Market.
Ketujuh, PT. Permodalan Nasional Madani Cabang Ambon. Kedelapan, Hotel Golden Palace Ambon. Kesembilan, Hot Zest Ambon. 10, PT. Matahari Putra Prima-Foodmart Ambon Plaza, 11. Hotel Amaris Ambon, 12. PT. Gidion Java, PT. BFI FINANCE Ambon, dan 14, PT. Bursa Efek Indonesia.
Namun, di balik hiruk pikuk itu, satu hal paling nyata, yakni ribuan orang datang bukan sekadar membawa map berisi berkas lamaran, melainkan juga mimpi, doa, dan harapan yang rapuh. Harapan agar di balik senyum yang mereka pamerkan, kegelisahan hidup tanpa pekerjaan akhirnya menemukan jawabannya.
Mungkin tak semua akan pulang dengan kabar baik. Ada yang kelak kembali menunggu, ada pula yang berjuang lagi di kesempatan berikut. Namun hari itu, di Ambon, mereka berdiri tegak dengan keyakinan sederhana, bahwa kerja keras, doa, dan kesabaran masih layak diperjuangkan.
Dan di balik senyum yang terselip gelisah, tersimpan cerita tentang anak-anak Maluku yang tak pernah berhenti berharap pada masa depan. (MON)




