REKTOR Universitas Muhammadiyah (UM) Maluku Prof Faris Al-Fhadat, MA, Ph.D mengaku siap mendukung dakwah persyarikatan Pengurus Wilayah (PW) Muhammadiyah Maluku. Langkah ini ia lakukan sebagai bagian dari upaya tanggung jawab untuk mendorong agar kedepan syiar Muhammadiyah di Maluku lebih maju dan berkembang.
“Sejarah dan fakta menunjukkan tak ada dakwah persyarikatan Muhammadiyah berjalan sukses kecuali di tempat tersebut memiliki lembaga dan sistem pendidikan perguruan tinggi berjalan baik,” ujar Rektor Prof Faris dalam acara: Pengajian Ramadan dan Silaturahmi Bersama Warga Persyarikatan Muhammadiyah Maluku, yang diselenggarakan UM Maluku di aula SMK Muhammadiyah, Wara, Ambon, Jumat, (27/2/26).
Ikut hadir dan juga menjadi Penceramah Tauziah Ramadan yakni Kepala LLDIKTI Wilayah XII Prof Dr.Saidul Deni, S.Ag, M.Si, Ketua Pengurus Wilayah (PW) Muhammadiyah Maluku Dr.H.M.Taib Hunsouw, M.Ag, dan Ketua BPH UM Maluku Dr.Jalaludin Salampessy.

Guru Besar Hubungan Internasional itu tentu punya alasan sebab hampir dapat dipastikan dan ditemukan di lapangan tempat dimana universitas Muhammadiyah berdiri di situ dakwah persyarikatan Muhammadiyah pasti maju.
Di hadapan Ketua PW Muhammadiyah Maluku H.M.Taib Hunsouw dan pengurus Muhammadiyah Maluku ia berjanji bila kelak UM Maluku sudah maju dan punya kampus sendiri maka akan diikuti pembangunan Gedung Sekretariat PW Muhammadiyah Maluku.
Kabarnya, dalam waktu dekat sudah ada tanah seluas tiga hektare di Kawasan Taeno, Kota Ambon, sudah siap dibeli untuk dibangun kampus baru di sana.
Untuk menjadi sukses dan berkembang, ia menolak stigma atau anggapan bahwa faktor kultur, etnis, dan agama menjadi penyebab mengapa orang menjadi malas dan sulit berkembang. Maka sistem pendidikan dan tatakelola organisasi menjadi kunci utama untuk orang menjadi sukses.
Dari sejarah kita bisa belajar, kata Prof. Faris, mengapa orang di Mexico bisa berkembang dan tingkat kesejahteraan mereka lebih baik dengan yang ada di utara Amazon. Padahal, mereka masih satu daratan di utara Benua Amerika dan punya kesamaan kultur, etnis, dan agama.

“Ternyata dari hasil penelitian pakar ekonomi, keterbelakangan itu bukan semata-mata faktor kultur, etnis, dan agama. Tapi ia lebih berhubungan karena sistem dan tatakelola pemerintahan yang baik,” ujarnya.
Itulah yang mendorong Prof Faris kedepan ingin menjadikan UM Maluku sebagai kampus yang inklusif atau terbuka tidak terkooptasi pada stigma kultur, etnis dan agama. Kunci untuk memacu agar lembaga pendidikan dan perguruan tinggi Muhammadiyah di Maluku maju dan berkembang tentu haruslah didukung oleh sistem dan tatakelola organisasi yang baik pula.
Sebagai contoh tetangga Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) di Kota Ternate. Di sana dakwah persyarikatan dan universitasnya jauh lebih hidup. Padahal, daerah ini termasuk salah satu provinsi termuda di Tanah Air yang baru terbentuk Oktober 1999 pun universitasnya UMMU relatif baru.
Selain punya kampus nan modern, UMMU juga sudah punya Fakultas Kedokteran dan kini berdiri lagi Fakultas Kedokteran Gigi yang baru saja diresmikan.
“Jadi, kalau kampusnya maju pasti akan diikuti oleh dakwah persyarikatan yang maju pula. Kuncinya tadi kultur dan sistem tatakelola organisasi di Muhammadiyah haruslah dikelola dengan baik,” ujar Prof Faris yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Jogyakarta, itu.
Ia yakin hanya dengan membangun kultur oranisasi dan sistem pendidikan yang baik kita akan maju dan berkembang. Dan kedepan ia berharap doa dan dukungan dari seluruh civitas akademika UM Maluku serta keluarga besar warga persyarikatan Muhammadiyah Maluku.
“Teruslah menebarkan kebaikan untuk memajukan lembaga pendidikan Muhammadiyah di Maluku,” ujar gurubesar berusia 40 tahun kelahiran Kota Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat, itu.
Ia yakin hanya dengan kerja keras diikuti oleh tata kelola yang baik UM Maluku bisa menjadi kampus yang diperhitungkan. Yakni kampus yang inklusif/terbuka dan menjadi milik bagi semua orang tanpa membedakan latar belakang status sosial: suku dan agama.
Tahun ini ada 10 mahasiswa baru dari kalangan non muslim ikut mendaftar di kampus ini. “Ini menandakan UM Maluku telah menjadi kampus terbuka dan menjadi bagian dari milik semua orang. Tidak membedakan latar belakang suku dan agama,” ujarnya.
Untuk membac-up kepemimpinannya, Rektor Faris ditemani dua orang pembantu rektor yang didatangkan khusus dari luar Maluku. Mereka adalah Dr. Andi Thamrin, M.Si sebagai Wakil Rektor I. Sebelumnya ia bertugas sebagai dosen di UMMU Ternate.
Dan, Dr. Imam Suprabowo, S.Sos.I., M.Pd.I. sebagai Wakil Rektor II sebelumnya sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Jogyakarta.
Keduanya diangkat berdasarkan SK Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bernomor SK: 0123/Kep/I.3/2025 dan SK: 0124/Kep/I.3/2025 tanggal 30 Maret 2025.
Sebelumnya, kampus ini telah memiliki dua fakultas yakni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), dan Fakultas Perikanan dan Kehutanan (FPK).
Terbaru yakni Fakultas Kesehatan untuk Administrasi Kesehatan dan Gizi. Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Prodi Hukum dan Bisnis, Prodi Teknik Informatika, Prodi Pendidikan Olahraga, Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan Program Pendidikan Guru Islam. (DIB)





