Paradoks Simpatisan Zionis Di Indonesia, Pemuja Kejahatan Dan Penodaan Kemanusiaan

  • Bagikan

Oleh: Paman Nurlette.

Anda pernah melihat para pemuja setan atau satanic, yang orientasi mendukung dan memuji kejahatan ? Mereka adalah manusia pengikut ajaran iblis/setan, memiliki niat jahat dan senang melihat orang lain diselimuti kesusahan. Ciri-cirinya ingin bermusuhan dan mendukung kejahatan tumbuh subur. Jika kita pernah jumpai orang sesat yang berafiliasi dan terobsesi dengan doktrin iblis seperti ini dalam kehidupan sosial bermasyarakat harus diwaspadai, karena sangatlah berbahaya dan sulit menerima kebenaran.

Di fikiran orang seperti ini hanya dua: ia tetap tumbalkan orang lain sesuai instruksi iblis atau menjadi tumbal karena gagal mengeksekusi misi yang dipikul di atas pundaknya. Puncak kepuasan dari hasil dukungan kejahatan saat melihat manusia lain terluka, tersakiti hingga meninggal dunia akibat perbuatan iblis, meskipun menyadari memiliki dimensi kepercayaan berbeda. Ia berperilaku dilematis dan problematis ketika rela berbaiat menjadi pendukung setia, tetapi membiarkan keluarga jadi korban dari ritual iblis.

Dalam arena konfrontasi militer antara AS- Israel versus Iran, orang-orang pemuja kejahatan yang dimaksud ialah para simpatisan Zionis di Indonesia, dan iblis/setan yang dipuji itu bernama Donald Trump dan Benjamin Netanyahu. Mereka sulit menerima kebenaran baik secara dokmatik maupun empirik. Norma Agama, norma hukum maupun norma etika bagi mereka hanya diagungkan dalam narasi, tapi dikhianati dalam implementasi.

Mengidentifikasi simpatisan Zionis sangat mudah, intip saja aneka tanggapan dan ragam komentar propoganda di sosial media yang melegitimasi genosida AS-Israel, tapi membiarkan kemanusiaan ternodai. Para pemuja kejahatan ini orang-orang dungu, yang defisit kemanusiaan dan miskin solidaritas sesama manusia. Faktanya mereka bersuka cita atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khamenei, sebagai simbol keberanian dan perlawanan atas kezholiman.

Selama ini simpatisan Zionis di Indonesia secara masif mengapresiasi kejahatan rezim terorisme dan diktator Israel melalui narasi puja-pujian diruang publik, tetapi terbungkam atas tewasnya ratusan ribu orang di Palestina dan Iran dari berbagai agama. Mereka menertawakan kematian, krisis simpati dan ikut menari diatas panggung penderitaan manusia layaknya para pemuja iblis/setan. Disinilah terjadi paradoks simpatisan Zionis di Indonesia dalam menyikapi konfrontasi militer Iran vs Israel.

Membenci serangan Iran dalam membelah martabat bangsa dan kedaulatan wilayahnya, tetapi
Memuja kejahatan Israel, merupakan sikap kontraproduktif yang amat naif. Itu artinya, mendukung genosida dan menodai kemanusiaan. Para pemuja ini menjelma menjadi hyper Zionisme, menduplikat narasi manipulatif, provokatif dan sentimen negatif dari Wahabisme untuk demonstrasikan “Syiah bukan bagian dari Islam”, meksipun keduanya memiliki misi propoganda berbeda.

Poros hyper Zionisme di Indonesia, adalah orang-orang yang memiliki fanatisme buta, dan merasa paling jadi Zionis daripada orang Israel itu sendiri. Misinya terus produksi narasi propoganda, hoax, adu domba, sentimen negatif untuk mengelabui publik, namun misi tersebut sudah terbantahkan melalui rabi-rabi Yahudi di Negara sendiri yang melawan rezim zholim dan membakar bendera Israel. Ciri kekerdilan berfikir para simpatisan Zionis adalah bahagia melihat Negara lain banjir lautan api, tapi susah melihat Israel jadi neraka dunia.

Sementara poros Wahabisme orientasi tidak mendukung Israel maupun Iran, karena menganggap keduanya sama-sama musuh. Mereka lupa ini bukan perang antar Mazhab, tetapi perang antara al-haq melawa al-bathil, mereka justeru jadi duri dalam Islam. Wahabi terus mendaur ulang narasi antik seperti Syiah bukan bagian dari Islam bertujuan menciptakan persepsi kontraproduktif, agar terjadi diskonsolidasi umat muslim dalam memberikan dukungan kepada Iran ditengah berjuang melawan penindasan dua monster, Trump dan Netanyahu yang bertopeng dibalik jaz licin dan dasi panjang.

Trump dan Netanyahu adalah dua hipokrit dan merupakan simbol kejahatan dari jelmaan watak iblis di era modern, yang terus dipuji oleh para pemuja kerdil. Sikap para simpatisan Zionis telah menodai kemanusiaan, dimana akal sehat sudah tercemar dengan asap rudal balistik dan hipersonik di langit tel aviv. Argumentum ad hominem yang disajikan mengindikasikan nurani mereka telah mati seperti peti-peti mayat berjejer di Yerusalem.

Fanatisme buta simpatisan Zionis membuat penglihatan mereka menjadi kabur, dan sulit menerima realitas kebenaran yang sesungguhnya, bahwa Israel lah bangsa perusuh dan sering merendahkan harkat dan martabat orang beragama lain. Misalnya, kita nonton beberapa video menyasar di platform media sosial, terlihat tokoh agama tertentu saat di Indonesia berteriak histeris sanjung Israel, tetapi ketika keberadaannya di kandang Benjamin Netanyahu, ia diperlukan sangat tidak manusiawi layaknya domba-domba.

Harusnya simpatisan Zionis di Indonesia fungsikan hati nurani, dan akal sehat untuk melihat fakta tersebut sebagai bukti kejahatan Israel melukai kemanusiaan semua agama. Anomalinya, tindakan amoral seperti itu tidak dikecam melainkan menggadai kemanusiaannya secara murah untuk memuja kebiadaban Israel, seperti halnya para pemuja setan yang memuji kejahatan demi melihat manusia lain terluka dan terbunuh, tetapi terbungkam ketika tau keluarganya juga tersakiti oleh iblis.

Di alam mistik saja antara sesama jin belum tentu saling mendukung dalam misi kejahatan dan penyesatan manusia. Dalam ajaran islam kita mengenal jin beriman (baik) dan jin kafir (jahat). Jin baik beribadah dan tidak menganggu manusia, sedangkan jin jahat terus menyesatkan manusia. Lantas kita hidup di era peradaban modern dibawah cahaya ilmu pengetahuan yang cukup canggih, tapi masih ada orang berfikir kerdil dalam mendukung kejahatan Israel, oleh karenanya kemanusiaan mereka perlu dipertanyakan?

Sikap simpatisan Zionis di Indonesia bukan hanya bentuk dukungan amoral terhadap kejahatan, melainkan mencerminkan watak dan karakteristik sebagai musuh-musuh Islam. Bagi mereka siapapun yang membantai Negara-negara muslim di timur tengah apalagi Israel tetap didukung, inilah bentuk ekspresi kebencian terhadap Negara-negara Islam.

Eskalasi konflik Iran-Israel salah dipahami oleh simpatisan dungu untuk produksi narasi dangkal, kering referensi dan non data membuat kesimpulan prematur beraroma provokatif bahwa konfrontasi yang berlangsung sebagai perang Agama antara Negara Muslim melawan Negara non Muslim. Padahal umat muslim Israel disana tentu mendukung berperang melawan Iran, dan umat yahudi di Iran sendiri juga sama ikut melawan rezim Zionis. Artinya, konflik kedua Negara bukan representatif simbol kitab suci, tetapi perang untuk mempertahankan martabat bangsa dan kedaulatan wilayah.

Mindset berfikir mereka jadi kacau dengan bangga menggunakan atribut Israel untuk menunjukan identitas dan solidaritas, padahal sekali lagi saudara-saudara seimannya di Israel justeru diperlukan tidak manusiawi oleh kaum yahudi. Simpatisan Zionis di Indonesia menganggap tindakan kediktatoran Israel telah merepresentasikan sikap mereka, yang notabenenya memiliki keyakinan berbeda dengan yahudi. Mereka lupa kalau Israel adalah bangsa perusuh dan tidak bersahabat dengan Agama manapun.

Secara realisme historis kaum yahudi (bani Israel) selalu melakukan pembangkangan terhadap perintah Allah melalui ajaran yang dibawah nabi musa, dalam beberapa riwayat disebutkan yahudi suka melakukan pengkhianatan, dan membunuh puluhan bahkan ratusan nabi misalnya, Nabi Zakaria AS dan Nabi Yahya AS, Nabi Yesaya (Isaiah) AS, Nabi Yeremia (Jeremiah), dan Nabi Uriah (Uriya) AS. Jadi, bangsa yahudi dari dahulu sampai sekarang masih melakukan kejahatan kepada semua agama di muka bumi.

Bahkan sejarah membuktikan yahudi lah yang menuduh Bunda Maria hamil di luar nikah, yang mana dikaitkan dengan seorang tentara Romawi bernama Panthera, bukan melalui mukjizat seperti yang diyakini dalam tradisi iman Kristen. Tuduhan tersebut berimplikasi pada ketegangan historis antara kaum yahudi awal dan pengikut Yesus (Kristen) mengenai identitas otentik kelahiran Yesus. Sementara sebaliknya, dalam Al-Qur’an, Maryam (Maria) justeru dihormati sebagai wanita suci yang selalu menjaga kesuciannya dan melahirkan Isa (Yesus) tanpa perantara laki-laki.

Dengan demikian, para pemuja kejahatan Israel di Indonesia bukan hanya fanatisme buta tapi juga buta sejarah. Andai genosida yang dilakukan oleh Israel terhadap Iran dan Palestina dapat terjadi kepada Indonesia dan posisi mereka bagian dari korban, apakah mereka masih tetap memuji rezim Zionis disaat kondisi mereka tertimbun tanah seperti di timur tengah.? Jawabanya bisa saja terjadi, sebab kemanusiaan, nurani dan akal sehat mereka telah mati.

Berbeda dengan esensi dukungan moral publik saat ini mengalir deras kepada Iran dalam melawan kejahatan kemanusiaan AS-Israel, bukan hanya didasarkan pada perspektif keberagaman dimensi religiusitas belaka, melainkan bentuk kesadaran etis ketika kemanusiaan dinodai oleh para predator perang, maka dianggap menjadi musuh kolektif masyarakat internasional.

Untuk melawan hegemoni Militer AS-Israel di arena geopolitik timur tengah, bagi publik jangankan Iran sebagai bangsa bermartabat dalam melakukan pembelaan untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan wilayah nya, kera-kera dari hutan rimba yang hidup liar di ekosistem hutan trofis pun, jika ingin konfrontasi dan membalas kebiadaban AS-Israel, maka tetap didukung demi melindungi tenda kemanusiaan dan perdamaian dunia di timur tengah.

Sikap dan tindakan Iran bukan hanya sekedar upaya balas dendam dan pembelaan diri, tetapi sebagai simbol kebangkitan Nasionalisme bagi rezim Sunni dan bentuk perlawanan terhadap kejahatan AS-Israel, yang selama ini menindas dan menjajah secara modern Negara-negara Timur tengah dalam beberapa dekade terakhir.

Fakta empiris membuktikan ditengah mayoritas rezim-rezim Sunni rela jadi budak dan menyetor upeti ke AS-Israel, tapi hanya IRAN yang selama ini dicap rezim syiah menolak tunduk tertindas dan bangkit melawan memilih setor rudal balistik dan hipersonik ke kandang Trump dan Netanyahu. Melalui perang yang sedang berlangsung, Iran ingin membuktikan eksistensinya sebagai Negara muslim bermartabat ditengah mayoritas Negara muslim lain dijadikan martabak, dan mudah disantap kapan saja oleh dua Predator perang.

Setelah perang hampir satu pekan lebih akhirnya dua monster Trump dan Netanyahu, menydari salah kalkulasi dalam memilih rival. Yang dihadapi sekarang bukan boneka hidup seperti Negara-negara Arab, yang selalu turuti hawa nafsu AS-Israel, tetapi melawan singa lapar dengan track record ratusan tahun pengalaman tempur di arena konflik bersenjata. Kini Iran membuat AS tak berdaya sebagai Negara adidaya, maka dipastikan Iran pemenangnya.(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *