Orang Tua Wajib Tahu! Ini Keutamaan Jalur SNBP dan SNBT Dari Pada Jalur Mandiri

  • Bagikan
Gedung Rektorat Unpatti Ambon

RadarAmbon.id – UNIVERSITAS Pattimura (Unpatti) Ambon mengingatkan para orang tua dan calon mahasiswa baru untuk memprioritaskan jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) dibandingkan jalur mandiri dalam penerimaan mahasiswa tahun akademik 2026.

Penegasan itu disampaikan Wakil Rektor I Unpatti, Prof.Dr. Dominggus Malle, dalam konferensi pers di lantai II Gedung Rektorat Unpatti, Ambon, Jumat (20/2/2026). Menurut dia, dua jalur nasional tersebut memberikan keuntungan signifikan, baik dari sisi kuota, pembiayaan, maupun akses terhadap bantuan pendidikan.

“Sebagai perguruan tinggi negeri, kami mengikuti sistem seleksi nasional. SNBP dan SNBT adalah jalur utama yang disubsidi negara. Ini yang seharusnya menjadi prioritas,” ujar Malle.

Dijelaskan, SNBP merupakan jalur berbasis prestasi akademik dengan penilaian utama pada nilai rapor siswa yang berstatus eligible dan diusulkan sekolah. Tahun ini, terdapat penyesuaian kebijakan berupa kewajiban memiliki nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai instrumen validasi.

“TKA bukan penentu kelulusan, tetapi untuk memvalidasi nilai rapor agar objektif dan terukur,” kata Malle.

Kuota SNBP di Unpatti mencapai 40 persen dari total daya tampung tahun 2026, yakni sekitar 2.810 kursi dari total 7.026 mahasiswa baru pada 82 program studi. Artinya, jalur ini merupakan peluang terbesar bagi siswa berprestasi.

Keunggulan lain, peserta SNBP tidak dipungut biaya pendaftaran dan memperoleh subsidi penuh. Bahkan, sekitar 95 persen mahasiswa yang lolos melalui jalur ini dan memiliki Kartu Indonesia
Pintar (KIP) Kuliah otomatis mendapatkan pembiayaan.

“SNBP ini paling menguntungkan. Kuotanya besar, seleksinya berbasis prestasi, dan beban biaya jauh lebih ringan,” ujarnya.

Namun demikian, Malle mengingatkan bahwa peserta yang telah dinyatakan lulus SNBP wajib melakukan registrasi ulang. Jika tidak, mereka akan kehilangan hak mengikuti jalur nasional
maupun mandiri di seluruh perguruan tinggi negeri selama dua tahun ke depan.

“Karena ini jalur prestasi dengan kuota khusus, maka yang lulus wajib mengambil. Jangan sampai menutup kesempatan orang lain,” tegasnya.

Selain SNBP, jalur SNBT juga dinilai lebih menguntungkan dibandingkan jalur mandiri. SNBT bersifat semi-subsidi dengan biaya pendaftaran relatif terjangkau, sekitar Rp200.000.

Jalur ini terbuka bagi lulusan tiga tahun terakhir (2024, 2025, dan 2026), termasuk lulusan Paket C dengan batas usia maksimal 25 tahun per 1 Juli 2026. Peserta yang masih mengikuti Paket C
tahun berjalan dapat mendaftar dengan surat keterangan resmi dari penyelenggara.

Ujian SNBT meliputi tes kemampuan skolastik, literasi Bahasa Indonesia, literasi Bahasa Inggris, dan penalaran matematika. Meski tantangan soal cukup tinggi, jalur ini tetap menjadi alternatif
strategis bagi siswa yang tidak lolos SNBP.

Di Unpatti, pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) digelar di sejumlah wilayah untuk menjangkau daerah kepulauan, mulai dari Kampus Poka Ambon sebagai pusat UTBK hingga
subpusat di Tual, Saumlaki, Dobo, dan Tiakur-Moa. Langkah ini dinilai memperluas akses dan mengurangi beban biaya transportasi peserta dari daerah.

Kuota SNBT di Unpatti mencapai 30 persen atau sekitar 2.108 kursi. Jika digabung dengan SNBP, maka 70 persen daya tampung mahasiswa baru tersedia melalui jalur nasional yang disubsidi.

Sebaliknya, jalur mandiri yang juga memiliki kuota 30 persen justru bersifat non-subsidi. Mahasiswa yang diterima melalui jalur ini wajib membayar Iuran Pengembangan Institusi (IPI), Uang
Kuliah Tunggal (UKT), serta berbagai biaya akademik lainnya.

“Di jalur mandiri, hampir seluruh komponen bersifat berbayar karena tidak disubsidi. Ini tentu menjadi beban tambahan bagi orang tua,” kata Malle.

Ia menilai masih banyak orang tua dan calon mahasiswa yang justru lebih memilih jalur mandiri, padahal secara kuota dan pembiayaan, jalur nasional jauh lebih menguntungkan.

Ironisnya, pada tahun sebelumnya kuota SNBP tidak terisi maksimal, sementara peminat jalur mandiri justru membludak hingga menutup kekurangan kuota dari jalur lain.

“Padahal kalau dihitung secara rasional, SNBP dan SNBT jauh lebih ringan dan peluangnya besar. Karena itu kami minta orang tua benar-benar memahami perbedaannya,” ujarnya.

Malle menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengarahkan anak memilih jalur seleksi secara tepat dan sesuai minat. Ia mengingatkan agar pendaftaran tidak dilakukan sekadar mencoba-coba tanpa pertimbangan matang.

“Kalau sudah lulus SNBP, harus siap menerima. Jangan asal daftar lalu menolak ketika dinyatakan lulus,” katanya.

Dengan total kuota 7.026 mahasiswa baru pada 2026, Unpatti membuka peluang luas bagi putra-putri Maluku dan sekitarnya untuk mengakses pendidikan tinggi. Namun, pilihan jalur seleksi, menurut Malle, akan sangat menentukan beban pembiayaan dan keberlanjutan studi ke depan.

“SNBP dan SNBT adalah jalur utama yang difasilitasi negara. Ini yang seharusnya dimanfaatkan sebaik mungkin oleh orang tua dan siswa,” ujarnya.(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *