Lonjakan TBC Ambon Mengkhawatirkan, Pendatang Jadi Sorotan

  • Bagikan

RadarAmbon.id – ANCAMAN Tuberkulosis (TBC) kembali menghantui Kota Ambon. Sepanjang tahun 2025, angka penderita penyakit menular mematikan ini melonjak tajam, jauh melampaui target yang ditetapkan pemerintah daerah, memicu kekhawatiran akan risiko penularan yang semakin luas.

Data Dinas Kesehatan Kota Ambon mencatat sebanyak 2.212 kasus TBC ditemukan selama 2025, atau meningkat hingga 131 persen dari target 1.685 kasus. Ironisnya, lonjakan tersebut tidak sepenuhnya berasal dari warga lokal. Sekitar 22 persen penderita merupakan penduduk luar Kota Ambon yang bekerja dan beraktivitas di ibu kota Provinsi Maluku.

“Peningkatan besar ini sebagian berasal dari penduduk luar daerah yang datang dan bekerja di Ambon,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, dr. Johan Norimarna, di Ambon, Rabu (14/1/2026).

Menurut Johan, melonjaknya jumlah kasus bukan semata-mata karena penularan yang tak terkendali, tetapi juga akibat langkah agresif pemerintah dalam mendeteksi penyakit melalui skrining kontak serumah. Setiap satu pasien TBC yang teridentifikasi, petugas kesehatan langsung menyisir keluarga dan lingkungan terdekat.

“Begitu satu kasus ditemukan, kami langsung periksa semua yang tinggal serumah dan orang-orang di sekitarnya. Dari situlah kasus-kasus tersembunyi mulai terungkap,” jelasnya.

Meski demikian, Johan menegaskan bahwa TBC bukanlah vonis mati. Penyakit ini dapat disembuhkan sepenuhnya asalkan pasien menjalani pengobatan secara disiplin dan tuntas sesuai anjuran medis.

“Masalahnya bukan pada obat, tapi pada kepatuhan. Jika pasien rutin minum obat, TBC bisa sembuh,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala awal TBC, seperti batuk berkepanjangan lebih dari dua minggu, penurunan berat badan drastis, serta menurunnya nafsu makan. Gejala-gejala ini kerap dianggap sepele, padahal menjadi pintu masuk penularan yang lebih luas.

Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat yang mengalami tanda-tanda tersebut untuk segera memeriksakan diri ke Puskesmas terdekat dan menggunakan masker demi melindungi keluarga serta lingkungan sekitar.

“Kesadaran masyarakat adalah kunci. Jangan tunggu parah, jangan tunggu menular. Segera berobat,” pungkas Johan.(*)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *