RadarAmbon.id – SIKAP kritis politisi PDIP Mercy Chriesty Barends, mengutuk keras tindakan kekerasan terhadap kapal sipil di selat hormuz, yang mengakibatkan nyawa dan keselamatan pelaut mendapat kritikan tajam dari kalangan masyarakat, karena dinilai tidak objektif dalam menyuarakan masalah kemanusiaan.
Menurut Paman Nurlette, Direktur Eksekutif Masyarakat Pemantau Kebijakan Publik Indonesia, kritikan seorang legislator terkait kekerasan oleh Republik Islam Iran atas nama kemanusiaan bisa dibenarkan, namun jangan menggunakan standar ganda (Double standard) dalam melihat kejahatan, yang sedang terjadi di panggung geopolitik timur tengah.
“Wakil rakyat seyogianya bersikap kritis ketika kemanusiaan dinodai, baik dalam konteks domestik maupun global, namun jangan bersikap apatis selektif terkait konfrontasi bersenjata yang terjadi. Jadi, ibu Mercy Barends jangan hanya kritik kekerasan oleh Iran, tetapi juga kutuk dan kecam genosida oleh AS-Israel,” demikian pernyataan tertulis Paman Nurlette kepada media ini, Sabtu (14/03/2026).
Nurlette menjelaskan sikap perlawanan Iran jangan dilihat secara parsial tetapi harus komprehensif. Sebagai Negara berdaulat ketika diserang oleh AS-Israel, maka mereka berhak untuk melakukan pembelaan dengan melancarkan serangan balik demi mempertahankan martabat bangsa dan kedaulatan wilayahnya. Terutama membalas kurang lebih 4.300 orang tewas termasuk pasukan militer Iran.
“Iran melakukan kekerasan terhadap kapal sipil di selat hormuz, adalah konsekuensi dari situasi konfrontasi bersenjata. Ibu Mercy harus paham saat ini di timur tengah bukan kondisi normal melainkan perang, apalagi tindakan tersebut dilakukan demi menjaga eksistensi kedaulatan wilayahnya, dan membalas ribuan warga tewas,” kata Nurlette.
Lebih lanjut Nurlette menambahkan, perang yang tengah terjadi hingga mengancam stabilitas regional timur tengah bermula dari tindakan agresi dan ambisi militer Israel yang dibantu oleh Amerika. Disarankan Mercy Barends ingin mengecam tindakan kekerasan Iran, harusnya terlebih dahulu mengutuk genosida oleh rezim Zionis baik terhadap Iran maupun Palestina. Contoh konkret tentara Israel telah menguasai lebih dari 80% wilayah jalur Gaza melalui serangan darat dan pemboman.
“Sebagai politisi semestinya produksi narasi kritik secara objektif, produktif dan konstruktif terkait konflik timur tengah, silahkan mengutuk Negara manapun yang terlibat melukai moralitas dan menodai kemanusiaan, bukan tajam dalam kritik kekerasan Iran di selat Hormuz, tapi tumpul terhadap gelombang genosida Israel di Iran dan Palestina,” tegas Nurlette.
Nurlette menegaskan jauh sebelum terjadi konfrontasi AS-Israel versus Iran meningkat tajam, yang mengakibatkan kerusakan berbagai fasilitas umum, gelombang genosida sudah dilakukan oleh rezim Zionis Israel terhadap rakyat Palestina selama puluhan tahun. Misalnya, dari berbagai sumber membenarkan lebih dari 700.000-800.000 warga Palestina mulai mengungsi sejak pada tahun 1948. Kemudian konflik gaza selama 2023-2025 mengakibatkan lebih dari 67.000 korban jiwa, dengan total akumulatif mencapai 144.000.
“Atas nama kemanusiaan, Ibu Mercy ditantang mengecam penjajahan oleh rezim Zionis terhadap masyarakat Palestina selama puluhan tahun, yang mengakibatkan lebih dari 2,4 juta jiwa penduduk mengalami genosida, kelaparan hingga pengungsian paksa, bahkan serangan militer Israel pada Oktober 2024 dan Mei 2025 membakar sebagian rumah sakit Indonesia di Gaza utara, memutus aliran listrik termasuk membom ruang ICU dan IGD,” ujar Nurlette.
Dikatakan kekerasan oleh Iran di selat hormuz sebagai repson balasan atas kejahatan AS-Israel, dalam membelah martabat bangsanya belum sebanding dengan genosida yang dilakukan oleh Israel. Iran sudah puluhan tahun tidak pernah menyerang Negara manapun, hanya melakukan pembelaan ketika kedaulatan wilayah terancam, sementara Israel hampir puluhan tahun menjajah warga Palestina.
“Fakta lain juga membuktikan 21.193 wanita menjadi janda, 56.348 anak jadi yatim piatu, 2 juta orang tertular penyakit, 38 rumah sakit di bom, 96 pusat kesehatan terbakar, 197 ambulance rusak, 165 lembaga pendidikan hancur, hingga 13.500 pelajar, 830 guru dan 193 dosen kehilangan nyawa akibat kekejaman Israel. Berdasarkan realisme historis genosida Israel diatas, maka saya tantang Ibu Mercy untuk mengecam AS-Israel atas nama kemanusiaan dan perdamaian dunia,” tutupnya.(*)





