Oleh: Saidin Ernas
Penulis adalah Dosen dan Peneliti di UIN A.M. Sangadji Ambon
DATANGNYA bulan Ramadhan di Maluku tidak sekadar dimaknai sebagai bulan suci bagi umat Islam untuk berpuasa, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan budaya yang kaya dan hidup. Di berbagai negeri dan pelosok wilayah kepulauan yang sejak berabad-abad menjadi simpul interaksi perdagangan, agama, dan tradisi ini, praktik keagamaan selalu berdialog dengan kearifan lokal. Hasilnya adalah wajah Ramadhan yang khas: religius sekaligus inklusif, sakral sekaligus hangat, serta spiritual sekaligus sosial.
Beberapa hari sebelum Ramadhan, seorang teman beragama Kristen mengirim pesan WhatsApp untuk mengiungatkan, “Beta tunggu undangan buka puasa, e.” Tidak ada basa-basi teologis, tidak ada jarak identitas, hanya kerinduan sederhana untuk kembali duduk bersama di meja berbuka. Saya tersenyum membacanya. Di Maluku, pertanyaan tentang jadwal buka puasa bersama justru sering datang lebih cepat dari sahabat non-Muslim. Seolah Ramadhan adalah milik bersama, bukan monopoli satu komunitas saja.
Cerita kecil ini menggambarkan wajah khas Ramadhan di Maluku: ibadah yang mengalir ke dalam relasi sosial lintas iman. Puasa memang ritual keagamaan umat Islam, tetapi suasana dan praktik sosialnya memengaruhi seluruh masyarakat. Sejarah panjang Maluku sebagai kawasan pertemuan berbagai peradaban; Nusantara, Arab, hingga Eropa, membentuk masyarakat yang terbiasa hidup dalam keberagaman. Islam berkembang melalui jalur perdagangan dan dakwah damai, berinteraksi dengan tradisi lokal yang sudah mapan. Hasilnya adalah ekspresi keagamaan yang tidak menghapus budaya, melainkan menyerapnya secara kreatif.
Kekayaan Tradisi Ramadhan
Salah satu wujud paling nyata adalah kekayaan tradisi selama Ramadhan, terutama praktik berbagi buka puasa bersama yang sering melibatkan sahabat dan kolega lintas agama. Sewaktu saya masih tinggal di kawasan Air Salobar, Kota Ambon, tetangga non-Muslim kerap membagikan makanan berbuka kepada keluarga kami. Tradisi ini kini bahkan dilembagakan secara kreatif dalam kegiatan buka puasa di kantor-kantor pemerintah maupun swasta yang mengundang semua kalangan.
Di banyak kampung dan daerah di Maluku, meja iftar terbuka bagi siapa saja tanpa sekat agama. Sejak kecil saya sering melihat ayah mondar-mandir di depan rumah menjelang magrib, memastikan tidak ada musafir atau orang lewat yang belum berbuka. Karena itu, piring di meja berbuka kami selalu dilebihkan dari jumlah anggota keluarg yangt hadir, sekadar berjaga-jaga jika ada tamu tak terduga yang datang bergabung. Praktik ini bukan sekadar keramahan sosial, melainkan refleksi kearifan lokal yang melampaui batas identitas formal. Dalam konteks masyarakat pascakonflik, kebiasaan berbagi hidangan Ramadhan lintas sosial bahkan lintas iman menjadi simbol rekonsiliasi yang hidup, bukan sekadar slogan toleransi.
Tradisi Ramadhan di Maluku juga menghadirkan lanskap kuliner yang khas. Pasar dan dapur rumah tangga dipenuhi penganan tradisional yang semarak pada bulan puasa; aneka kue basah, minuman rempah, serta hidangan berbahan sagu, kelapa, dan ikan. Kehadiran kuliner ini bukan hanya soal rasa, melainkan memori kolektif. Resep diwariskan turun-temurun, sementara proses memasaknya menjadi aktivitas komunal yang mempererat hubungan keluarga dan tetangga.
Bahkan para pemburu jajanan iftar yang selama Ramadhan memadati kawasan Masjid Raya Al-Fatah atau Desa Batu Merah di Ambon bukan hanya umat Muslim yang hendak berbuka puasa, tetapi juga banyak kolega non-Muslim yang membeli untuk dibagikan kepada saudara Muslim mereka. Dalam perspektif antropologi pangan, tradisi semacam ini berfungsi sebagai medium transmisi identitas: orang Maluku “mengenali dirinya” melalui rasa dan kebiasaan makan saat Ramadhan.
Dimensi komunal juga tampak dalam tradisi membangunkan sahur. Di sejumlah wilayah, kelompok pemuda berkeliling kampung sambil menabuh alat musik tradisional atau benda sederhana secara ritmis, disertai nyanyian bernuansa religius. Aktivitas ini menegaskan kehadiran Bersama, saling mengingatkan dalam kebaikan dan menjaga kehidupan kampung tetap hangat di malam Ramadhan. Tradisi seperti ini menumbuhkan rasa kepemilikan kolektif terhadap Ramadhan sebagai peristiwa sosial, bukan sekadar ibadah individual.
Harapan Transformasi Sosial
Dalam perspektif transformasi sosial, kekayaan tradisi Ramadhan di Maluku memiliki potensi besar. Pertama, ia memperkuat kohesi sosial melalui pengalaman kebersamaan yang positif. Kedua, ia menjadi ruang pendidikan toleransi yang efektif karena dialami langsung sejak kecil. Ketiga, ia menawarkan model keberagamaan yang moderat dan kontekstual: taat secara teologis, namun terbuka secara kultural. Di tengah dunia yang kerap terbelah oleh identitas, praktik seperti ini menunjukkan bahwa religiusitas dan keberagaman dapat berjalan beriringan.
Tentu, modernisasi dan globalisasi membawa tantangan. Urbanisasi, perubahan gaya hidup, dan komersialisasi Ramadhan berpotensi mengikis tradisi lokal. Jika kuliner khas tergantikan produk instan atau kegiatan komunal tergeser oleh hiburan digital, maka Ramadhan bisa kehilangan dimensi sosialnya. Karena itu, pelestarian tradisi bukan sekadar nostalgia budaya, melainkan investasi sosial. Pemerintah daerah, tokoh agama, dan komunitas lokal perlu bersama-sama mendokumentasikan, merayakan, dan mentransmisikan praktik Ramadhan Maluku kepada generasi muda.
Pada akhirnya, Ramadhan di Maluku menunjukkan bahwa ibadah tidak pernah berdiri di ruang hampa budaya. Ia selalu menjelma dalam konteks sosial tertentu. Di Maluku, konteks itu adalah sejarah perjumpaan, nilai persaudaraan, dan kebiasaan berbagi lintas iman. Ketika puasa dijalani dengan kekayaan tradisi seperti ini, ia tidak hanya membentuk kesalehan personal, tetapi juga mentransformasikan masyarakat menjadi lebih harmonis. Ramadhan, tradisi, dan transformasi di Maluku pada akhirnya adalah satu kesatuan. Di sana spiritualitas bertemu budaya, dan keduanya bersama-sama menumbuhkan harapan bahwa keberagaman dapat terus dirawat melalui praktik hidup sehari-hari yang sederhana, hangat, dan manusiawi. Semoga…!. (*)





