RadarAmbon.id – KETUA Caretaker Pengurus Karang Taruna Provinsi Maluku, Halimun Saulatu, menegaskan pentingnya konsolidasi organisasi Karang Taruna di enam kabupaten/kota di Maluku sebagai langkah awal memperkuat peran pemuda dalam menjawab tantangan sosial dan pembangunan di daerah. Ini disampaikan Halimun dalam kegiatan Temu Karya pengurus kabupaten/kota se-Provinsi Maluku yang berlangsung di Manise Hotel, Sabtu (31/1/26).
Halimun menyebutkan, saat ini Karang Taruna Maluku memiliki enam caretaker, yakni Kota Ambon, Kabupaten Buru, Kota Tual, Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), dan Kabupaten Kepulauan Aru. Keenam wilayah tersebut tengah dipersiapkan untuk memilih ketua definitif melalui mekanisme musyawarah.
“Hari ini kami sengaja melaksanakan musyawarah untuk memilih ketua-ketua definitif. Setelah itu, dalam waktu dekat kami akan melaksanakan Temu Karya Karang Taruna,” ujar Halimun.
Ia menegaskan, Temu Karya bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan forum strategis untuk melakukan evaluasi menyeluruh, konsolidasi internal, serta penentuan arah gerakan Karang Taruna Maluku ke depan. Forum ini diharapkan mampu menyatukan gagasan, menyelaraskan langkah, dan memperkuat komitmen pemuda agar Karang Taruna hadir sebagai kekuatan sosial yang memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Halimun menyoroti kondisi sosial Maluku yang masih dihadapkan pada sejumlah persoalan, seperti tingginya angka pengangguran, kemiskinan di wilayah pesisir dan kepulauan, keterbatasan akses ekonomi, serta potensi kerawanan sosial di beberapa daerah. Situasi tersebut, menurutnya, menuntut keterlibatan aktif pemuda dalam proses pembangunan.
“Dalam konteks inilah Karang Taruna harus tampil di garda terdepan. Kita tidak boleh hanya menjadi organisasi kegiatan, tetapi harus menjadi organisasi solusi yang bekerja nyata dan dirasakan langsung oleh masyarakat,” tegasnya.
Ia berharap Temu Karya dapat menghasilkan sejumlah agenda penting, antara lain penguatan konsolidasi organisasi hingga tingkat desa dan negeri. Struktur organisasi, kata dia, harus hidup, administrasi tertib, dan kaderisasi berjalan secara berkelanjutan, karena kekuatan Karang Taruna bertumpu pada soliditas dari bawah.
Selain itu, Halimun mendorong pengembangan program berbasis kebutuhan masyarakat yang fokus pada pemberdayaan ekonomi pemuda. Program-program tersebut diarahkan pada penguatan UMKM, pemanfaatan potensi lokal di bidang perikanan, pertanian, pariwisata, dan ekonomi kreatif, serta peran aktif pemuda dalam menjaga kerukunan sosial.
Sinkronisasi dengan arah pembangunan daerah juga menjadi penekanan penting. Menurut Halimun, Karang Taruna harus menjadi mitra strategis pemerintah kabupaten/kota dan provinsi, mendukung kebijakan yang berpihak pada rakyat sekaligus menjadi mitra kritis agar pembangunan benar-benar menyentuh masyarakat dan pemuda.
“Setiap program harus terukur, memiliki output yang jelas, outcome yang nyata, dan manfaat langsung bagi masyarakat. Kita harus menghentikan kegiatan yang tidak produktif dan tidak memberikan nilai tambah,” ujarnya.
Halimun menegaskan bahwa kekuatan Karang Taruna terletak pada persatuan dan kerja kolektif. Tidak boleh ada kabupaten atau kota yang berjalan sendiri-sendiri.
“Kita adalah satu Maluku, satu Karang Taruna, satu gerakan pemuda,” tegasnya.
Ia juga berharap Temu Karya melahirkan kepemimpinan yang visioner, berintegritas, dan siap bekerja nyata. Kepemimpinan yang tidak hanya kuat dalam wacana, tetapi mampu memberi teladan dan menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat Maluku.(*)




