Jelang Tutup Tahun, FKPT Maluku: Jaga Kondisifitas

  • Bagikan

RadarAmbon.id – MEMASUKI Natal 2025 dan malam pergantian Tahun Baru 2026 yang tinggal beberapa hari lagi kita semua perlu menjaga kondisifitas lingkungan di sekitar kita dalam suasana yang aman dan tentram. Hindari sedapat mungkin segala bentuk kekerasan fisik dan berita hoax yang bisa berpotensi menimbulkan gesekan antarkelompok. Meski dari segi ancaman atas potensi terorisme di Maluku menurun namun kita harus tetap waspada terhadap kekerasan yang setiap saat bisa saja datang diluar perkiraan.

Demikian tanggapan ini disampaikan Ketua Forum Koordinator Pencegahan Terorisme (FKPT) Maluku Ruslan Affandy Basri, SE usai Rapat Monitoring dan Evaluasi (Monev) Akhir Tahun 2025 bersama pengurus FKPT Maluku di Ambon, Jumat, (19/12/25).

Menurut Ruslan, mencermati munculnya kekerasan yang terjadi di Kota Ambon dan beberapa daerah di kabupaten mengingatkan kita bahwa fenomena kekerasan semacam ini perlu mendapat perhatian khusus dari kita semua tanpa kecuali para pemangku kepentingan di daerah ini.

Ia mengingatkan, potensi kekerasan selalu diawali oleh banyak faktor salah satunya yakni kita harus menjaga lingkungan dari tindakan kriminal. Dari pengalaman selama ini biasanya pemicu kekerasan selalu diawali oleh salah paham atau miras (minuman keras).

Selain itu, melihat fenomena kekerasan saat ini dimana pelakunya banyak melibatkan pelajar maka sebagai orang tua, guru, dan semua stakeholder harus mengawasi anak didik kita dari segala bentuk kekerasan.

“Ini penting. Sebab ada fenomena saat ini tindakan kekerasan justeru dimotori oleh pelajar. Bahkan telah terdeteksi oleh aparat keamanan kita di antara mereka pelaku kekerasan itu sudah ada yang terpapar dan belajar bagaimana merakit bom lewat internet,” ujarnya.

Untuk itu, kedepan di tahun 2026 ia berharap melalui kerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di Jakarta program pencegahan dan pemberdayaan untuk penanggulangan bahaya tindakan terorisme dan radikalisme terutama di kalangan pelajar perlu diperkuat.

Diakui, walau dilihat dari sudut permukaan ancaman teror dan radikalisme di Maluku menurun namun pada lapis bawah masyarakat dan khususnya pelajar harus terus diberikan bekal pengetahuan dan sentuhan melalui sosialisasi ataupun dialog.

Untuk menghindarkan para pelajar agar tidak terpapar paham radikalisme dan terorisme, kata dia, tak ada cara lain kita harus memperkuat sinergitas dan membangun kolaborasi di setiap lembaga pendidikan terutama SMP/SMA dan madrasah.

“Ini semua penting bagi kita untuk bisa mendeteksi sejak dini agar pelajar kita bisa terhindar dari segala bentuk kekerasan,” ujarnya.

Dari hasil Monev 2025, kata Ruslan, lembaga yang dipimpinnya itu telah berhasil melakukan sejumlah program terkait pentingnya menumbuhkan nilai-nilai kesadaran dalam berbangsa. Dan, pentingnya memperkuat pemahaman yang sifatnya inklusifisme baik di kalangan tokoh agama, akademisi, mahasiswa, pelajar, pemuda, dan jurnalis di Maluku.

Di antara beberapa kegiatan itu seperti: Pitutur Cinta, Kolaborasi Pelajar Lintas Agama dalam Menciptakan Kesejukan, Kedamaian yang Inklusif dalam Beragama. Lalu, Gelar Budaya Nusantara dan Lomba Membaca Puisi bertema: Suara Damai Nusantara alias SUDARA.

Pada saat yang sama, kata Ruslan, FKPT Maluku juga menggelar Survei Indeks Potensi Radikalisme (IPR) dan Indeks Resiko Terorisme (IRT) di dua kota dan tiga kabupaten di Maluku yakni Kota Ambon, Kota Tual, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Kabupaten Buru, dan Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT).

Untuk memperkuat sinergitas lintas lembaga FKPT Maluku juga melakukan silaturahmi dan kerjasama dengan sejumlah pihak seperti KESBANGPOL Maluku, BIN, Densus 88, dll.

“Kami juga menggelar diskusi bersama sejumlah OKP Maluku dan menjadi pemateri pada sejumlah lembaga lintas pemerintah dan pihak keamanan,” ujarnya. (DIB)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *