PAGI itu saya sempat berkesempatan berjumpa Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ambon Pak Dr.Abidin Wakano, M.Ag di ruang kerjanya di Kampus Hijau, Batumerah, Kota Ambon, untuk menyerahkan buku saya yang baru diterbitkan berjudul: Orientasi Pemikiran Cendekiawan Muslim di Persimpangan Politik Tanah Air.
Di buku saya ini Dr. Abidin ikut memberikan kata pengantar. Sebagai pemikir dan intelektual kampus yang lama bergelut dalam kajian pemikiran Islam kontemporer dan juga sebagai aktivis kemanusiaan, Dr.Abidin tentu bukan orang baru untuk diminta memberikan kata pengantar pada buku saya ini, Selasa, (21/1/26).
Di kesempatan ini, selain berbincang soal perkembangan politik, modernisme dan postmodernisme, kami juga berdiskusi soal ekoteologi yakni salah satu cabang teologi (ilmu tentang ketuhanan) dalam hubungannya dengan manusia, alam, dan Tuhan. Juga tentang dampak Artificial Intelligence (AI) bagi dosen dan mahasiswa dalam pengembangan ilmu pengetahuan di dunia kampus.
Ini kali kedua saya ke sini setelah kampus ini beralih status setahun lalu dari IAIN menjadi UIN dan baru diresmikan oleh Menteri Agama (Menag) RI Prof Dr Nasaruddin Umar, Sabtu, (17/1/26).

Setelah beralih status dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi UIN AM.Sangadji wajah Kampus Hijau ini seolah lebih hijau. Selain suasana lingkungannya yang telah diliputi daun nan rimbun sejak dulu kampus ini identik dengan pepohonan.
Melihat suasana kampus yang dipenuhi pohon yang hijau dan rindang serta indah dan enak dipandang mata membuat mata setiap mereka yang baru menginjakkan kaki di sana seketika menjadi sejuk.
Selain daunnya nan rindang diikuti kontur tanahnya yang berbukit membuat adem. Juga jalanannya yang tertata baik dan diikuti oleh lekukan bukit menambah suasana kampus nan asri.
Tidak percaya silakan Anda coba tengok ke sana.
Tak kurang Menag Prof Nasaruddin Umar yang baru kali pertama berkunjung pada acara kuliah umum diikuti pengresmian alih status kampus di hadapan pejabat dan civitas akademika UIN Ambon hari itu mengaku bangga melihat suasana kampus.
Dalam kuliah umum bertema pendidikan berbasis cinta, kasih, toleransi, dan tanggung jawab terhadap lingkungan diikuti penanam pohon, pakar tafsir Al-Quran ini saat melukiskan Indonesia pun suasana Kampus UIN AM Sangadji sebagaimana dilukiskan dalam Al-Quran sebagai serpihan dari taman-taman surga yang diambil dari kata “jannah”: “jannatil min tah tihal anhar.”
Kata “jannah” –begitu yang saya kutip ceramah sang menteri di situs UIN Ambon– itu digambarkan sebagai taman. Diambil kata “jananal” artinya gundulan-gundulan tanah yang ditutupi oleh tumbuh-tumbuhan. Di sela-selanya itu mengalir di bawahnya air sungai.
Saat melewati pintu masuk kampus itu sang menteri rupanya melihat di sisi kiri-kanan ada aliran sungai. Di atas sana tampak pepohonan nan hijau. Itulah yang membuat sang menteri terpesona pada suasana kampus yang berlokasi di ujung timur Desa Batumerah, Kota Ambon, itu.
Di atas meja tamu Pak Rektor Abidin di samping buku saya pagi itu juga terlihat buku karya Menag Nasaruddin Umar berjudul: Ekoteologi Islam, Konsepsi dan Implementasi. Ini adalah buku yang hari itu sempat dibagi-bagikan oleh sang menteri kepada sejumlah pejabat Maluku di Kampus UIN AM.Sangadji.
Bak air mengalir — begitu banyak wahana keilmuan dan pemikiran keluar dari ucapan Rektor Abidin — sosok putera kesayangan tokoh NU Maluku almarhum H.Umar Wakano asal Negeri Latu, kelahiran Kairatu, Pulau Seram, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), 5 April 1973, ini.
Setelah membaca buku karya Menag Nasaruddin Umar tentang konsep ekoteologi Rektor Abidin punya kesimpulan bahwa ternyata apa yang kita dapatkan dan pelajari sejak kuliah dulu hari ini semua terbukti.
“Sejarah seolah terulang. Dari gerakan perkembangan pemikiran politik kontemporer di Tanah Air hingga persoalan ekoteologi kini menjadi nyata dan apa yang pernah kita dapatkan saat kuliah tidak salah,” ujar alumnus S1 IAIN Alauddin, Makassar, itu.
Dinamika politik Tanah Air yang kita pelajari hari ini pernah juga mengalami pasangan surut seperti dulu. Pun, sebagian pandangan para pemikir materialisme dan modernisme barat yang melihat alam ini sebagai objek dan menjadikan akal pikiran sebagai segala-galanya, ternyata tidaklah tepat. Konsep ekologi hari ini membuktikan bahwa alam raya saat ini telah dieksploitasi hingga membuat terjadi musibah dimana-mana.
Munculnya postmodernisme yang dikembangkan oleh pemikir Islam Prof Seyyed Hossein Nasr sebagai reaksi atas pemikiran modernisme barat dinilai telah gagal karena mereka menganggap modernisme yang mengandalkan akal dan menjadikan alam raya ini hanya sebagai alat untuk mengeksploitasi.
Tak heran hari ini banyak di antara kita melihat pohon dan alam sekitarnya: tanah dan batu-batuan hanyalah sebagai sasaran antara untuk meraup kekayaan. Karena itu di kalangan pemikir barat melihat alam ini hanya sebagai target karena menganggap mereka sebagai benda mati.
Pun dalam pandangan pakar ekologi yang melihat alam hanya sekadar benda, padahal dalam kacamata Islam semua makhluk yang ada di atas bumi ini adalah makhluk hidup. Terjadinya eksploitasi alam hingga berakibat musibah banjir dan tanah longsor tak lepas dari cara pandang kita yang salah. Padahal, pohon-pohon, daun-daun, batu yang kita lihat, dan tanah yang kita injak mereka adalah sumber energi.
Dari tanah muncul air. Dari air kemudian menumbuhkan tanaman. Pun dari air kita kemudian meminumnya. Dari batu muncullah endapan. Ada sumber energi. Ada magnet di sana. Kesemuanya itu tak lain diperuntukkan untuk kita nikmati. Kalau kita anggap tanah, batu, dan pohon sebagai benda mati dan karena itu kita seenaknya mengeksploitasinya tidaklah tepat.
Jadi, tanah yang menghasilkan air lalu menghidupkan pepohonan, juga batu yang mengeluarkan energi kemudian kita sesuka hati merusaknya itu keliru. Kalau tanah itu bukan makhluk hidup lalu bagaimana kita bisa dapat menikmati air minum. Kalau tanah itu benda mati bagaimana bisa kita dapat menikmati sayuran dan buahan-buahan dimana dari sana tanaman itu bisa tumbuh, ulat, dan hama bisa hidup.
Ia mengingatkan pelajaran berharga yang didapat pada masa kuliah tentang konsep “wihdatul wujud” atau menyatunya manusia dengan makhluk ciptaan Tuhan di muka bumi yang dulu dikembangkan oleh ilmuwan dan filosof serba bisa asal Iran bernama Ibnu Arabi yang banyak diminati para intelektual muslim ternyata hari ini menjadi bukti.
Dan, jauh hari dalam Al-Quran di Surah Hud Ayat 61 juga sudah mengingatkan kepada kita tentang konsep “wihdatul wujud” yakni pentingnya menjaga dan melestarikan alam raya untuk kemakmuran, bukan sebagai objek eksploitasi.
Melalui konsep “wihdatul wujud” ini menunjukkan manusia tak bisa memisahkan dirinya dengan alam. Karena semua isi alam ini juga adalah makhluk hidup yang diciptakan Tuhan.
Anda yang pernah mengecap pendidikan di bangku kuliah untuk studi pemikiran Islam nama Ibnu Arabi tentu sudah tak asing. Pun, siapa tak kenal Ibnu Sina seorang dokter muslim yang filsuf dan oleh barat dikenal dengan nama Avicenna. Pun siapa tak kenal Al-Khawarizm penemu angka “0” dan Algoritma. Juga siapa tak kenal Imam Al-Ghazali yang teolog, filsuf, dan punya kitab terkenal yakni Ihya Ulumuddin.
Jadi konsep ekoteologi jauh hari telah dituliskan oleh Al-Quran yang kemudian dikembangkan oleh pemikir Ibnu Arabi dengan nama “wihdatul wujud” itu mengingatkan kita tentang pentingnya manusia beradaptasi dengan alam. Konsep cinta Tanah Air pada hakikatnya juga menunjukkan bahwa menyatunya kita dengan tanah dan air serta semua isi bumi ini adalah juga bagian dari ciptaan Tuhan yang harus dijaga dan dilindungi.
Dr Abidin mengingatkan kita bila tiba-tiba kita menatap pohon, daun, batu dan semua makhluk hidup yang ada di hadapan kita seketika kita harus ingat bahwa mereka juga adalah bagian dari makhluk hidup yang harus kita pelihara.
Pun saat menginjakkan kaki di tanah, menaiki kendaraan, atau saat berada di rumah kita semuanya harus kita maknai sebagai sumber energi untuk kehidupan kita, sebab mereka pada hakekatnya bukanlah benda mati.
Dari Kampus Hijau inilah —sebagaimana yang digambarkan Menag Nasaruddin Umar sebagai taman-taman surga— kita berharap kedepan lembaga pendidikan tinggi Islam ini menjadi kampus yang diperhitungkan.
Dan, sebagai pusat pengembangan intelektual di Maluku semoga dari Kampus UIN AM.Sangadji yang dipimpin Rektor Abidin Wakano ini kelak lahir para ilmuwan dan pemikir Islam nan hebat dari Bumi Raja-Raja. (AHMAD IBRAHIM)




