Jubir Lawamena: Hentikan Kritik Tendensius Kepada Gubernur

  • Bagikan

RadarAmbon.id – JURU Bicara Lawamena, Rauf Pelu, meminta  sejumlah pihak menghentikan kritik yang dinilainya tendensius dan tidak berdasar terhadap Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa terkait penanganan konflik sosial di beberapa wilayah.

Rauf menegaskan, berbagai pernyataan yang menyudutkan Gubernur tidak mengangkat substansi persoalan yang sesungguhnya. Menurutnya, sejak awal menjabat, Gubernur telah menjalankan fungsi sebagai kepala daerah dan kepala pemerintahan dengan pendekatan komprehensif, melibatkan TNI dan Polri dalam setiap upaya mencairkan konflik yang terjadi di Maluku.

“Jangan semua persoalan dilemparkan kepada Gubernur apalagi berkaitan dengan penyaluran bantuan. Ini tidak adil dan tidak objektif. Ada Pemerintah Provinsi ada pemerintah kabupaten/kota.Misalnya di Hunut, itu Pemprov ada juga Pemkot. Begitupun di Malteng dan daerah lainnya, “ujar Pelu, Selasa (20/1/26)

Ia juga menyinggung soal keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi nasional tahun 2025. Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Maluku, tetapi dialami seluruh daerah di Indonesia. Karena itu, kritik terkait bantuan dan infrastruktur harus disampaikan secara proporsional, bukan dengan menyimpulkan seolah-olah Gubernur abai terhadap rakyat.

Rauf mencontohkan kehadiran Gubernur yang turun langsung ke lapangan, termasuk pada hari libur, untuk menenangkan masyarakat dan memastikan penyelesaian konflik berjalan. Bahkan, kata dia, dalam beberapa kasus Gubernur menggunakan dana pribadi untuk membantu korban karena keterbatasan keuangan daerah.

“Gubernur bukan malaikat, beliau manusia biasa dengan kelebihan dan kekurangan. Tapi jangan dipelintir seolah semua masalah Maluku bersumber dari beliau. Itu kritik yang tidak sehat,” Ujar Alumni Fakultas Hukum Universitas Darusalam Ambon ini.

Ia menegaskan, Gubernur Maluku tidak anti kritik dan terbuka terhadap masukan siapa pun, selama disampaikan secara rasional dan konstruktif. Namun, kritik yang dilandasi ketidaksukaan personal dan disampaikan tanpa dasar yang kuat justru berpotensi memperkeruh situasi.

“Keamanan dan perdamaian Maluku adalah milik kita semua. Jangan dipertentangkan, jangan ditarik ke arah politik atau sentimen pribadi. Mari kritis, tapi tetap adil dan berimbang,” pungkas Rauf.(*)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *