RadarAmbon.id – KRISIS air bersih di Kota Ambon khusunya dikawasan Batu Merah puncak meliputi, Kebun Cengkih, Air Kuning, Gunung Malintang dan sejumlah lokasi lainnya kian memprihatinkan. Kekeringan pasokan air tidak hanya melumpuhkan aktivitas rumah tangga warga, tetapi juga berdampak langsung pada dunia pendidikan.
Di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) As-Salam Ambon, para siswa terpaksa dipulangkan lebih awal akibat tidak tersedianya air untuk kebutuhan dasar di sekolah.
Kepala MIS As-Salam Ambon, Ustadzah Bidar Sangkala mengaku, kebijakan memulangkan seluruh siswa itu dilakukan pada Selasa pekan kemarin. Saat proses pengecekan penampungan air, diketahui seluruh bak air di sekolah dalam kondisi kosong, sementara aktivitas belajar mengajar sudah berlangsung dan kebutuhan sanitasi siswa meningkat.
“Anak-anak sudah ramai mau buang air kecil dan besar. Dicek di lantai satu tidak ada air, turun ke lantai dua juga kosong, sampai ke lantai tiga tetap tidak tersedia. Akhirnya guru terpaksa menggunakan air galon untuk membantu anak-anak BAB dan BAK,” ungkapnya kepada RadarAmbon.id Selasa (13/1/26).
Kondisi tersebut memaksa pihak sekolah mengambil langkah darurat. Selain menggunakan air galon, beberapa guru bahkan terpaksa pulang ke rumah untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Sekolah juga memesan layanan air tangki, namun harus menunggu hingga sore hari karena antrean yang panjang.
“Hari itu kami pesan sampai tiga tangki air hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari. Dan sampai saat ini kami juga memaan Air Tangki. Pemakaian air benar-benar kami hemat. ” jelasnya.
Bidar menambahkan, meski pembayaran air dilakukan secara normal, aliran air belum juga lancar. Ia berharap Pemerintah Kota Ambon dapat segera mengambil langkah cepat untuk mengatasi persoalan ini.
“Air bukan hanya untuk sekolah, tapi kebutuhan hidup sehari-hari dan ibadah. Kami mohon ada antisipasi yang lebih cepat agar ketersediaan air bisa kembali normal,” pintanya.
Krisis serupa juga dirasakan warga. Imran, warga Gunung Malintang, mengaku sudah lebih dari satu bulan tidak menikmati aliran air bersih. Untuk mandi, BAB, dan BAK, ia terpaksa menggunakan air galon.
“Kondisi ini sudah sangat kronis. Kami mohon Pak Wali Kota Ambon menegur PT DSA atas pelayanan buruk ini. Ironisnya, tagihan tetap jalan, telat sedikit langsung ancam pemutusan,” keluh Imran dengan nada kesal.
Keluhan senada disampaikan Zihan, warga Selali Air Kuning. Ibu lima anak ini mengatakan air menjadi kebutuhan paling vital dalam keluarganya, namun kini harus dihemat secara ekstrem.
“Air itu segalanya. Kalau tidak ada air, mau jadi apa kita ini. Air tangki terpaksa diirit karena bisa habis dalam seminggu. Untung kami punya bak penampung,” ujarnya.
Zihan juga menyoroti kondisi warga lain yang tidak memiliki bak penampungan dan hanya mengandalkan tong atau ember.
“Bagaimana dengan keluarga yang tidak punya penampungan air? Ini sangat sulit. Pak Wali Kota Ambon, tolong perhatikan kami,” pintanya.
Hingga kini, warga dan pihak sekolah berharap adanya solusi konkret dan cepat dari pemerintah serta pihak terkait agar krisis air bersih di Kota Ambon tidak terus berlarut-larut.(*)




