RadarAmbon.id – KEPALA Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Maluku Tengah, Abdul Gani Wael, menegaskan pentingnya penguatan kerukunan dan pencegahan konflik sebagai respons atas dinamika sosial yang dihadapi masyarakat pada 2025 hingga 2026. Hal tersebut disampaikan Gani kepada RadarAmbon.id, Jumat (9/1/2026).
Menurutnya, situasi nasional dan daerah saat ini dihadapkan pada berbagai ujian yang berpotensi memicu gesekan sosial. Karena itu, Kemenag Maluku Tengah mengimplementasikan secara serius program prioritas Menteri Agama, khususnya penguatan kerukunan umat beragama dan moderasi beragama.
“Kami membangun koordinasi intensif dengan tokoh-tokoh agama dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), serta melibatkan unsur pemerintah daerah, mulai dari kejaksaan, pengadilan negeri, pengadilan agama, hingga organisasi keagamaan,” ujarnya.
Gani menjelaskan, pendekatan perdamaian tidak cukup dilakukan secara struktural, tetapi harus diperkuat melalui sentuhan keagamaan yang langsung menyentuh umat. Masjid, gereja, dan rumah-rumah ibadah lainnya dijadikan ruang strategis untuk menyampaikan pesan persatuan, toleransi, dan cinta kasih sebagai fondasi kehidupan bersama.
Selain itu, Kemenag juga menekankan pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan para leluhur, seperti semangat orang basudara, rasa beta rasa, dan solidaritas sosial khas Maluku. Nilai-nilai tersebut dinilai relevan sebagai perekat sosial dalam menjaga keutuhan dan perdamaian masyarakat.
Dalam upaya pencegahan konflik, Gani menekankan pendekatan kolaboratif dan preventif. Ia menilai penanganan konflik tidak boleh bersifat reaktif setelah konflik terjadi, melainkan harus dirancang jauh sebelumnya melalui dialog lintas agama dan keterlibatan aktif masyarakat.
“Kita harus duduk bersama, merancang konsep penguatan sebelum konflik muncul. Tokoh-tokoh agama harus dilibatkan sejak awal, karena merekalah yang paling dekat dengan umat,” tegasnya.
Sebagai garda terdepan, Kemenag Maluku Tengah mengandalkan peran penyuluh agama dari seluruh agama yang telah ditempatkan di setiap kecamatan. Para penyuluh ini diharapkan aktif turun ke lapangan, membina masyarakat hingga tingkat desa dan dusun, serta memperkuat kesadaran hidup rukun melalui majelis keagamaan, remaja masjid, dan komunitas umat lainnya.
Dengan langkah-langkah tersebut, Kemenag Maluku Tengah optimistis nilai perdamaian, persaudaraan, dan toleransi dapat terus terjaga di tengah masyarakat yang majemuk.(*)




