Oma de Fretes Sang “Papalele” Tangguh dari Negeri Kilang

  • Bagikan

RadarAmbon.id – OMA de Fretes, pedagang tradisional Kota Ambon, asal Negeri Kilang, Kecamatan Leitimur Selatan, mengaku bangga atas penetapan “Papalele” oleh pemerintah pusat Cq Kementerian Budaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

Ditemui wartawati Radarambon.Id di Batu Meja, Kota Ambon, Selasa, 16 Desember 2025, ia mengungkapkan kegembiraannya setelah mengetahui jika “Papalele” telah ditetapkan oleh pemerintah pusat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Jumat 10 Oktober 2025, itu.

Penetapan pemerintah memasukkan “Papalele” sebagai warisan budaya, kata Oma de Fretes, menunjukkan sebuah bentuk pengakuan negara atas eksistensi “Papalele” sebagai simbol pedagang rakyat yang tangguh.

“Papalele” adalah salah satu warisan budaya turun temurun yang telah dilakukan sejak lama oleh para pedagang tradisional di kota ini.

Dalam literatur disebutkan istilah “Papalele” berasal dari kata Portugis Kuno yang berarti “Papalvo.” Kata ini menggambarkan aktivitas usaha kecil dan perdagangan sederhana di mana penjual bertemu langsung dengan pembeli.

Tradisi “Papalele” berperan penting dalam memperkuat solidaritas sosial masyarakat Ambon, dan lebih dari sekadar aktivitas ekonomi — melainkan warisan budaya yang hidup dan terus menumbuhkan identitas sosial di Tanah Manise.

Mereka ini umumnya datang dari daerah pegunungan dan pesisir Pulau Ambon yang menjual hasil bumi dan hasil laut menggunakan bakul mengelilingi pemukiman warga atau berdagang di Pasar Mardika.

Selain memanggul bakul atau loyang ada pula ciri berbeda pada setiap “Papalele” yakni pakaian. Dalam menjajakan jualan mereka kerab menggunakan baju tenunan khas Kota Ambon namanya “Baju Cele”.

Oma de Fretes termasuk salah satu “Papalele” yang telah menghabiskan waktunya di usia 60 tahun memilih profesi ini secara turun temurun.

Ia mengaku bekerja sebagai “Papalele” karena terinspirasi pada orang tuanya yang juga berprofesi sama sebagai “Papalele”. Jauh sebelum kota ini didera konflik sosial 1999 ia telah menjadi bagian penting dari “Papalele”.

Dari hasil berdagang hasil bumi itu Oma de Fretes berhasil menyekolahkan tujuh anaknya menjadi orang yang sukses. “Satu diantaranya kini telah menjadi seorang perwira di Kendari,” ujarnya.

Maluku yang sampai saat ini masih melestarikan adat budaya “Papalele” menunjukkan suatu kebanggaan, sebab selain unik juga memiliki nilai sejarah.

Ia mengaku senang dan merasa bangga berjualan menggunakan “Baju Cele” yang juga menjadi identitas di Kota Manise itu.

“Senang karena Baju Cele ini adalah warisan adat Maluku dari orang-orang tua kami dulu yang sudah berlangsung turun- temurun,” ujar sang oma.

Menghadapi kondisi di zaman yang serba online Oma de Fretes bergeming. Bersama teman-temannya yang lain mereka tetap tegar berjualan di tempat di Pasar Mardika dan tidak terpengaruh oleh medsos melalui pesan online.

Ia mengaku, buah-buahan segar yang dibeli umumnya adalah milik para petani di Negeri Kilang dan sekitarnya. Juga dibeli dari pedagang di Pasar Mardika kemudian dijual kembali.

Beragam jenis buah-buahan yang dijualnya itu tak kalah segar dengan yang ada di mall atau swalayan. Bahkan produk buah-buahan hasil para petani di Pulau Ambon yang dijual di pasar itu tidak menggunakan bahan kimia.

Oma de Fretes juga mengaku bangga, sebab saking terkesan banyak di antara para konsumen atau pelanggannya mendokumentasikan aktivitas sang pedagang tangguh dari Negeri Kilang, Pulau Ambon, ini untuk dikirim ke keluarga dekat mereka di Belanda.(FIKO)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *