Oleh: Ahmad Ibrahim
WARGA persyarikatan Muhammadiyah di Maluku Utara khususnya mereka yang berada nun di Galela, Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara, tentu patut berbangga.
Sebab, seperti banyak diunggah di medsos itu, Milad ke-113 Muhammadiyah Maluku Utara yang dipusatkan di kecamatan di ujung utara Pulau Halmahera Sabtu lalu telah menunjukkan sebuah kebesaran sejarah. Karena dari Galela inilah kali pertama organisasi kemasyarakatan terbesar di Tanah Air tersebut lahir setelah di Jogya.
Terlihat masyarakat dan para undangan begitu antusias menyambut kedatangan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI yang juga adalah Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Abdul Mu’ti, M.Ed saat menggunakan helikopter yang diterbangkan khusus dari Ternate ke Galela.
“Ke Galela kita kembali untuk pencerahan dan pencerdasan. Karena di Galela inilah roh Muhammadiyah lahir,” begitu kata Ketua Panitia Milad Muhammadiyah Dr.Kasman Hi Ahmad, S.Ag, M.Pd, mengawali laporan sebagai ketua panitia yang dipusatkan di RS. MER-C, Galela, Sabtu, (13/12/25).
Penyampaian Kasman Hi Ahmad yang penuh semangat itu ternyata mendapat perhatian dari Pak Abdul Mu’ti beberapa saat setelah sang menteri tersebut menyampaikan pidatonya. Bahkan ia mengidentikkan Kasman Hi Ahmad dengan Kasman Singodimedjo tokoh Muhammadiyah yang dikenal sebagai orator ulung itu.
Pun sambutan Bupati Halmahera Utara Dr.Piet Hein Babua, M.Si, juga mendapat tanggapan yang sama dari menteri dan menganggap kedua pemimpin Halmahera Utara ini sebagai orator hebat.
Tak kalah menarik juga sambutan Wagub Sarbin Sehe di mata menteri tak jauh beda dengan dua pembicara sebelumnya.
Untuk mengenang jasa para tokoh pendiri Muhammadiyah Maluku Utara yakni Imam Muhammad Amal terlihat di depan tempat milad itu ada sebuah spanduk besar berisi biografi sang tokoh.
Selain Imam Muhammad Amal juga terdapat tokoh pendiri Muhammadiyah lainnya dari Tobelo bernama Abdullah Tjan Hoatseang. Ia adalah seorang ulama keturunan Tionghoa yang telah memilih Islam.
Sebagai bentuk penghormatan kedua tokoh Muhammadiyah Maluku Utara itu telah diabadikan dalam sebuah buku yang diterbitkan PP Muhammadiyah sebagai 100 Tokoh Inspirasi Muhammadiyah.
“Inilah kedua tokoh Muhammadiyah dari Maluku Utara yang kami kirimkan ke PP Muhammadiyah dan telah dimasukkan sebagai 100 tokoh inspirasi di Indonesia,” ujar Kasman Hi Ahmad, yang juga dikenal sebagai Wakil Bupati (Wabup) Halmahera Utara dan mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, itu.
Pujian atas Muhammadiyah itu juga datang dari Wakil Gubernur (Wagub) Maluku Utara H.Sarbin Sehe, S.Ag, M.Pd. Dalam sambutannya ia mengakui sejarah kebesaran Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan yang kokoh.
Bahkan dalam sejarahnya Muhammadiyahlah yang melahirkan Indonesia bukan sebaliknya Indonesia yang melahirkan Muhammadiyah.
“Karena itu kita harus belajar banyak dari Muhammadiyah,” ujar Wagub Maluku Utara yang mengaku dilahirkan dari keluarga Nahdatul Ulama (NU), itu.
Sebelumnya Bupati Piet Babua juga merasa bangga atas peran dan kontribusi Muhammadiyah buat bangsa dan daerah ini.

“Milad ke-113 Muhammadiyah yang dipusatkan di Galela hari ini adalah moment langka. Sebab, setelah tahun 1968 barulah hari ini kembali digelar di Galela,” ujar Bupati Piet.
Muhammadiyah di Maluku Utara sebagaimana dalam literatur disebutkan bahwa organisasi yang dilahirkan KH.Ahmad Dahlan ini secara organisatoris telah lahir di Galela sejak 1924.
Dalam riset yang dilakukan penulis buku sejarah Maluku Utara H.Adnan Amal, SH, menyebutkan dari sisi doktrin dan ajarannya justeru sudah lebih dulu dipraktekkan di Galela pada 1918 atau enam tahun setelah Muhammadiyah dilahirkan di Jogya pada 1912 oleh KH.Ahmad Dahlan.
Di laman Youtube itu terlihat ikut mendampingi menteri saat turun dari helikopter yakni Wagub Maluku Utara H.Sarbin Sehe, Bupati Halmahera Utara Piet Hein Babua, Wabup Halmahera Utara Kasman Hi Ahmad, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Maluku Utara Drs Ishak Jamaluddin, M.Pd, dan para Muspida.
Saat kedatangan menteri dan rombongan disambut tarian cakalele. Bupati Piet Babua dan Wabup Kasman terlihat pula menggunakan parang dan salawaku larut dalam suasana penuh gembira.
Tanpa kecuali Menteri Abdul Mu’ti juga terlihat ikut memegang alat peraga perang sembari mengayun-ayunkan tangan dengan tarian khas cakalele saat memasuki tempat acara.
Suasana Milad ke-113 Muhammadiyah di Galela juga tampak penuh kebersamaan dan toleransi karena juga melibatkan warga Kristiani dari Kelompok Paduan Suara Jemaat Togawa yang dipimpin oleh seorang dirigen saat membawakan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu Mars Muhammadiyah.
Sebagai gerakan dakwah, komitmen Muhammadiyah terhadap khittah perjuangan dalam menegakkan prinsip amar ma’ruf nahi mungkar, dan kebudayaan di utara Maluku Utara haruslah mengambil peran. Dan, melalui Milad ke-113 ini telah memperlihatkan bahwa Muhammadiyah adalah organisasi yang kokoh dan telah berperan besar mendorong kemajuan dan kemaslahatan umat.
Galela sebagai cikal bakal berdirinya Muhammadiyah mestinya harus lebih memperkuat jati diri sebagai gerakan dakwah dan tetap menjadi ujung tombak mendorong kemajuan di bidang pendidikan, kesehatan dll di ujung utara Pulau Halmahera.
Salah satu bentuk kepedulian tersebut tak lama lagi Muhammadiyah Maluku Utara akan segera mengtake-over RS.MER-C Galela untuk memenuhi pelayanan di bidang kesehatan baik meliputi wilayah Kecamatan Galela dan Kecamatan Loloda.
Menghadapi situasi di tengah pasang surut dan hiruk pikuk politik Tanah Air Muhammadiyah tentu telah memperlihatkan kematangannya.
Apa yang telah ditanamkan melalui pesan-pesan luhur dari “Sang Pencerah” dan pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan: “Hidup-hidupkanlah Muhammadiyah dan Janganlah Mencari Penghidupan di Muhammadiyah,” semoga tetap berkesan di hati para pimpinan dan anggotanya untuk membesarkan amal usaha Muhammadiyah dimana pun mereka berada.
Kita doakan kepada para pendiri Muhammadiyah yang telah pergi mendahuluinya semoga dilapangkan alam kuburnya serta dimaafkan segala salah dan khilafnya.
Pun kepada mereka yang mencintai masa depan peradaban di daerah ini semoga bisa mendarmabaktikan ilmu dan pengalamannya untuk kemaslahatan umat, bangsa, dan negara yang kita cintai ini.
Di tangan duo putra terbaik dari Bumi Hibualamo Pak Kasman dan Pak Ishak Jamaluddin yang juga sama-sama mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, itu dapat menjadikan kiprah Muhammadiyah yang selama ini identik dengan “Sang Pencerah” bisa lebih hidup di Jazirah Utara Pulau Halmahera.
Pun melalui Milad ke-113 Muhammadiyah serta hadirnya para pejabat penting di kaki Gunung Tarakani ini bisa menjadi momentum untuk melahirkan sejumlah gagasan penting bagi pemberdayaan pendidikan, kesehatan, ekonomi, dll untuk kemaslahatan umat sebagaimana visi Milad ke-113 Muhammadiyah: Memajukan Kesejahteraan Bangsa.
Ke Galela kita kembali untuk pencerahan dan pencerdasan. Sebab dari Galela lah roh Muhammadiyah lahir. (*)


