Upaya Pelestarian Kuliner Sagu Ambon, Pedagang Minta Penataan Lokasi Jualan

  • Bagikan

RadarAmbon.id – AMBON,  Pedagang makanan tradisional khas Ambon yang berbahan dasar sagu meminta pemerintah daerah menyediakan sentra kuliner khusus sagu. Mereka berharap penataan lokasi jualan yang lebih layak dan higienis agar makanan tetap aman dikonsumsi dan menarik. Permintaan ini disampaikan oleh Leny (48), salah satu penjual sagu di Pasar Mardika Ambon.

Ia menilai, kondisi tempat berjualan saat ini kurang layak karena berada berdekatan dengan pedagang sayur dan bahan lain yang memicu banyaknya lalat.

“Sagu ini kan makanan yang langsung dimakan. Di dalam Gedung Mardika ini kita berjualan berdekatan dengan jualan sayur, banyak lalat. Harapan saya, pemerintah membuat satu tempat khusus untuk makanan khas Ambon supaya lebih aman. Orang yang datang dari luar kalau cari makanan khas Ambon bisa langsung tertuju ke satu tempat,” kata Leny, Senin, 25 Agustus 2025.

Menurut Leny, keberadaan sentra kuliner akan memudahkan wisatawan maupun masyarakat lokal dalam mencari produk olahan sagu. Saat ini, penjualan makanan khas Ambon tersebar di beberapa titik, baik di dalam maupun luar gedung pasar.

“Kalau sekarang, pembeli harus mencari-cari karena ada yang jual di depan gedung, ada juga di dalam, bahkan di samping PU. Harapan saya pemerintah benahi pasar, atur pedagang, dan buat tempat khusus untuk makanan khas Ambon,” ujarnya.

Leny menuturkan, sagu yang dijualnya berasal dari Saparua, Kabupaten Maluku Tengah. Usaha ini awalnya dirintis ibunya sebelum konflik tahun 1999 di Ambon. Ia kemudian meneruskan usaha tersebut hingga kini.

“Mama dulu berjualan keliling dengan dikeku, kemudian pindah di Terminal A1 sampai sekarang. Waktu saya sekolah, sudah ikut berjualan sama mama. Sekarang mama sudah istirahat, saya yang teruskan,” katanya.

Ia menjelaskan, Sagu merupakan bahan pangan khas Maluku yang diolah dari serat bagian tengah batang pohon sagu.

“Tepung sagu kemudian diolah menjadi berbagai makanan tradisional seperti sagu bakar, bagea, dan bubur sagu yang tetap diminati masyarakat maupun wisatawan hingga kini,” jelasnya. (MON)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *